Belia Menjelang Seratus Tahunan - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Belia Menjelang Seratus Tahunan

Share This

 Belia Menjelang Seratus Tahunan

Penulis : Yogi Juliansyah


I. Belia ambillah percikan fungsi batang pepohonan

Warna yang menyuntik jiwa anyaman aksa

Timbul gundah bangun pengabdiannya


II. Diseberang kehancuran melambaikan lebatnya perih

Cahaya kerlap-kerlip seberkas langit terus tebal hati

Cepat kembali ke halaman rempah praktisi

Semua akan terjadi lurus

Jika berpegangan sendi

Melewati kecacatan lumpur kurikulum inti, mutu pemberi

Oh, kami tak butuh ukiran hasil diatas rapuh meja

Karena wajah rempah terus penuh segumpal luka


III. Peranan dan sandaran terjadi susun di kertasan

Mendustakan kala darah dan tusuk air nanah

Bayi mungil dibopongnya dan terus melangkah demi langkah

Mencari aroma kesegaran menjelang seratus tahunan

Kemudian anak hilang, di tengah bergelut sendah pertandingan

Dan terdengar rintihan ibu

“A..a..a..anakku...sayang. Ini sebagai isyarat. Subur peradaban, biarlah kau

keterjunan di akar alam.”


IV. Ganjalan-ganjalan mencucurkan

Teknologi luar meremas kita

Ketimpangan sosial meremas kita

Pengangguran meremas kita

Kemiskinan meremas kita, meremas kita, meremas kita

Pendidikan, benih butir mengoyakkan penyakit tanah rempah

Dilahirkan satu darah, lemparkanlah ke anak-anak penerus bangsa !


V. Tanah rempah tak butuh sensasi gelora lidah

Jika berkiprah tak bias mampu disana

Jangan pasif diatas kepala


VI. Karena wajah rempah penuh segumpal luka, luka, seluka, luka...

Dan suaka terus mengundang kita

"mari-mari sini! Kita nyanyikan lagu akal binasa."

“Hemm............hemm...........hemm.............”

Harapan adalah nyanyian prosa diatas udara surga kapal...


Yogi Juliansyah

Medan, 17 Januari 2021.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages