Menjadi Uwais Al Qarni ‘Masa Kini' Siapa yang Berani? - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Menjadi Uwais Al Qarni ‘Masa Kini' Siapa yang Berani?

Share This

Source: Denny Putra/detikcom


Penulis: Sephia Salsalina | Editor: Arnita Sari Siagian


Gardamedia.org- Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa sebaik-baik tabi'in atau pengikut adalah seorang laki-laki yang biasa dipanggil Uwais. Nama lengkapnya Uwais Al Qarni. Dia seorang yatim dan hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh di Yaman.

"Carilah ia (Uwais Al Qarni), dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian," sabda Rasulullah seperti diriwayatkan dalam hadist Shohih Muslim.

Siapa sebenarnya Uwais Al Qarni sehingga begitu istimewa bagi Rasulullah?

Dikutip dari buku Kisah Kehidupan Uwais Al Qarni sang Penghuni Langit Kekasih Tuhan Semesta Alam, karya Muhammad Vandestra, Uwais dan ibunya masuk Islam setelah mendengar seruan Nabi Muhammad SAW dari Makkah.

Uwais adalah sosok pemuda yang sholeh dan sangat memuliakan ibunya. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya.

Pernah suatu saat, sang ibu yang sudah tua sangat ingin sekali pergi haji. Padahal dengan kondisi ketika itu yang tak ada uang, Uwais merasa berat untuk memenuhi keinginan sang Ibu.

Dari Yaman, perjalanan ke Makkah sangat lah jauh. Melewati padang tandus yang panas. Orang-orang yang pergi ke Makkah biasanya menggunakan unta untuk membawa banyak perbekalan.

Uwais terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar ibunya bisa berangkat ke Tanah Suci. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu dan Uwais membuat kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yang menganggap aneh tindakan Uwais tersebut.

Setelah 8 bulan, berat Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram. Saat tiba musim haji, Uwais merasa otot-ototnya sudah kuat dan siap mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang Ibu dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Di tanah suci, Uwais Al Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thawaf di Kakbah. Di depan Kakbah air mata sang Ibu tumpah. Uwais pun berdoa, "Ya Allah, ampuni semua dosa Ibu."

“Bagaimana dengan dosamu?" tanya sang Ibu yang heran karena Uwais tak minta dosanya diampuni.

"Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari Ibu yang akan membawaku ke surga," jawab Uwais (dikutip dari sumber : DetikNews).

Bagaimana teman-teman sudahkah berbakti pada orang tua hari ini?  Karena sesungguhnya jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua.  Seperti tertuang dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]

Banyak yang berpikir bahwasanya terlalu ‘tidak masuk akal' jika seorang anak menggendong ibunya untuk naik haji di era yang modern ini. Meski begitu, sebagai pemuda seharusnya kita bisa mengambil hikmah dari kisah Uwais Al Qarni yaitu sikap hormat dan patuh kepada ibunya, sehingga hal-hal yang tidak masuk di akal menurut orang-orang pun dapat dilakukannya karena tidak dapat menolak permintaan sang ibu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages