Senin, 23 September 2019

Indonesia Meratap, Pemerintah Senyap



Bencana yang menimpa Indonesia tidak kunjung mereda. Akhir 2018, gempa dan tsunami mengguncang Sulawesi. Maret 2019, banjir dan longsor menimpa kawasan Sentani. April 2019, banjir besar disertai longsor menimpa Bengkulu. Agustus 2019, gempa Banten mengakibatkan 1.640 orang terluka. Kini, September 2019, kabut asap menyelimuti langit Indonesia. Langit kelabu, udara tidak sehat memenuhi paru-paru masyarakat.
Kabut asap yang saat ini sudah menyinggahi wilayah Sumatera Utara berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau dan Kalimantan. Jumlah titik api akibat kebakaran hutan dan lahan per 13 Sepember 2019 di Riau sebanyak 44 titik. Asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru dan sejumlah kabupaten lainnya di Riau semakin pekat dari hari-hari sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya www.bmkg.go.id menempatkan kualitas udara Kota Pekanbaru di level berbahaya. Indeks Pencemaran di Pekanbaru menurut aplikasi Air Visual juga masuk kategori membahayakan. Siswa sekolah di Riau sudah diliburkan sejak Selasa, 10/9/2019. Bahkan libur sekolah diperpanjang, melihat kabut asap enggan beranjak dari langit Pekanbaru. 

Langit Kalimantan juga tak kunjung membaik. Beberapa bandara harus  membatalkan penerbangannya, karena landasan pacu didominasi asap tebal. Tidak hanya lalu lintas udara yang terganggu, sektor transportasi laut juga terkena imbasnya. Kabut asap tebal membuat penglihatan tidak jelas, sehingga waktu pelayaran sering kali tertunda. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan ada sebanyak 643 titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan. Selain itu, berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemar Udara, Pontianak pada 17 september  berada di angka 222,27 dengan parameter pm10 dan masuk dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan data KLHK, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selama 2019 sudah mencapai 328.722 hektare. Kalimantan Tengah meyumbang 44.769 kebakaran hutan, Kalimantan Barat kehilangan 25.900 hektare, Kalimantan Selatan 19.940 hektare., beralih ke Sumatera, Sumatera Selatan kehilangan 11.826 hektare, Jambi 11.022 hektare dan Riau sebanyak 49.266 hektare. Sejumlah satwa, seperti orang utan kehilangan habitatnya. Sekitar 3000 sampai 3500 orang utan terancam kehidupannya.


Puluhan mahasiswa dan masyarakat umum telah turun ke jalan mempertayakan keberadaan pemeritah. Slogan “Riau Dibakar bukan Terbakar” ramai dibicarakan warga dunia maya maupun dunia nyata. Pemerintah dianggap gagal menjaga lingkungan hidup dan gagal mengurangi jumlah titik api di Kalimantan dan Riau selama setahun terakhir. Pada tahun 2018, tercatat ada 3.722 titik api di Indonesia. Sementara pada tahun 2019 jumlah titik api di Indonesia mencapai 6.512 titik. Data ini berdasarkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Meskipun begitu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kondisi kebakaran lahan dan hutan di Indonesia saat ini masih terkendali. Beliau juga belum menetapkan kondisi kabut asap ini sebagai bencana nasional.

Langit kelabu, namun Presiden masih sempat untuk menyetujui revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Hanya butuh waktu 6 hari bagi Jokowi untuk menyetujui revisi UU KPK ini, padahal diberi waktu hingga 60 hari untuk memikirkan lebih matang. Sepertinya, Pak Jokowi terburu-buru sekali menyetujui UU ini. Meskipun banyak kalangan yang mengecam tidak setuju dengan revisi UU KPK, Pak Jokowi tampaknya tidak peduli. Masyarakat banyak yang mengkritik pemerintah dengan kalimat “Kalimantan dan Riau terbakar, tapi KPK yang dipadamkan”.
 Kini, masyarakat harus mengadu ke siapa? Ketika wakil rakyat terlalu sibuk dengan urusan pribadi, bahkan jeritan masyarakat yang turun ke jalan tidak dianggap sama sekali, mulai dari jeritan revisi UU KPK yang terlalu buru-buru ditindak  lanjuti, jeritan kabut asap masyarakat Riau yang tidak kunjung ditanggulangi, jeritan satwa Kalimantan yang kian habis terpanggang api. Pemerintah terlalu abai, padahal masyarakat sudah lemas terkulai. Udara yang kian memburuk, membuat sistem pernapasan menjadi ambruk. Tapi pemerintah terkesan senyap, tutup mata dan tutup telinga atas bencana yang menggerogoti tubuh pertiwi. 



Penulis: Syahrun Nisa


Minggu, 15 September 2019

Mahasiswa Kenapa Harus Tau Kasus Pembunuhan Munir?



Gardamedia.org- Jumat (13/9). 7 september 2004 adalah hari dimana pejuang HAM  terbaik Indonesia menghembuskan nafas terakhir. Meninggal dengan menyisakan lika liku pertanyaan yang tidak ada ujung hingga saat ini. Kasus ini seolah seperti di bungkam, dengan rumitnya penyelesaian dari pihak pemerintah, yang rupanya di saat itu merasa terancam dengan hadirnya Munir sebagai aktivis Hak Asasi Manusia.

Seperti apa sebetulnya kronologi meninggalnya Munir, dan siapa dalang di balik kasus kotor ini? Kronologi singkat Meninggalnya Munir adalah diracuni dengan zat arsenik, yang merupakan zat kimia dan akan bereaksi setelah kurang lebih 4 jam. Menurut kamus Wikipedia, arsenik dan komponennya merupakan racun yang kuat, hingga mendapat julukan “king of poison”. Racun arsenik membunuh dengan cara merusak sistem pencernaan, yang menyebabkan kematian. Gejala ini sama dengan yang dialami almarhum Munir. Senyawa arsenik biasanya tidak berbau, tidak berasa, dan larut dalam air, sehingga sulit dideteksi.

Bermula dengan kabar gembira yang mendatagi pria asli kota Malang ini, sebuah tawaran S2 di negri Orange, Belanda di bidang International Protection on Human Rights. 7  september adalah tanggal keberangkatan pria berbadan kurus ini. Namun  penerbangan itu sebetulnya yang akan merenggut nyawanya. Munir menaiki pesawat Garuda 974 menuju Amsterdam. 3 jam awal di penerbangan ini tiba tiba pramugari harus memanggil penumpang bernama Tarmizi Hakim yang merupakan dokter spesialis jantung. Rupanya dia di panggil karena ada penumpang yang tiba- tiba dingin kaku dan sangat lemas. Ternyata itu Munir, langsung saja Hakim memberikan obat pereda sakit perut yang jadi keluhan Munir. Sesaat sakit itu mereda, dan Munir bisa istirahat sebentar. Selang dua jam kemudian Munir makin merasakan sakit perutnya bertambah dan di saat itulah nyawanya sudah tidak ada. Tepat pesawat di atas langit Rumania yang 2 jam lagi menuju landing di Amsterdam. 
 
Ternyata di dalam penerbangannya ada rencana pembunuhan terhadap dirinya. Darimana asal racun arsenik itu?. Di saat penerbangan Munir Jakarta ke Singapure di ketahui dia pindah dari kelas ekonomi ke kelas bisnin yang membuat ia sedikit terheran. Cerita selanjutnya menaruh kecurigaan kepada seseorang bernama Pollycarpus, pilot garuda yang kebetulan tidak tugas dan ikut menumpang di pesawat Garuda dari Jakarta menuju Singapura. Dialah yang memberi bangkunya untuk Munir, kursi binis Nomor 3K. Selama perjalanan, Munir memesan bakmi goreng dan jus jeruk. Pollycarpus terlihat mondar-mandir dari bar premium ke kokpit. Hal itu lah yang membuat Pollycarpus dituduh menjadi pelaku pembunuhan ini. Lalu kenapa Munir di bunuh?, Apa yang di takutkan orang dari pria berbadan kurus ini?

Munir rupanya punya banyak musuh di luar perkiraannya. Protes-protesnya di media massa tentang penegakan hak asasi manusia di Indonesia telah membuat kalangan mapan di Jakarta kesal. Dia dipuji, sekaligus dimusuhi. Bagaimana tidak, berbagai macam kasus ketidak adilan serta masalah hak asasi manusia dinegeri ini telah di tuntaskan olehnya. Seperti kasus penembakan Trisakti, orang hilang, dan sejumlah advokasi Munir dalam tragedi 1998. Bisa pula disebut tentang kasus Talang Sari, isu pelanggaran HAM di berbagai tempat seperti Ambon, Aceh, Timor-Timur, dan yang paling mutakhir adalah kasus Tanjung Priok. 

Ada juga yang sifatnya legislasi, seperti RUU Intelijen atau pun RUU TNI yang dijegal Munir. RUU Intelijen tidak jadi digolkan karena mendapat banyak kritik, termasuk oleh Munir. Belakangan RUU TNI cukup mendominasi kerja-kerja Munir. Kritik Munir di awal-awal munculnya RUU TNI membuat atau memicu demonstrasi di beberapa tempat. Dalam konteks itu, Munir dilihat sebagai ancaman. Munir dilihat sebagai musuh oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap kasus-kasus itu. Pria keturunan Arab ini memang terkenal berani dan konsisten dalam memperjuangkan HAM. Ketajaman dan orisinalitas gagasannya yang sering mengejutkan justru ia dapatkan dari pergelutannya yang menantang risiko dalam kasus-kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Dalam enam tahun terakhir saja, mantan Koordinator KontraS itu kerap mendapat ancaman dan teror, acap kali kematian. Di tahun 2003, seseorang meletakkan bom di halaman rumahnya di Jakarta meski tidak menyebabkan kerusakan. Kabar meninggalnya memang seperti memenggal sebuah perjalanan yang masih terbentang jauh ke depan.



Sepertihalnya Mahasiswa, yang selalu ingin mengakkan keadilan, Munir juga saat jadi Mahasiswa di Fakultah Hukum Universitas Brawijaya adalah orang yang lantang menegakkan keadilan. Yang mana kita ketahui memang mahasiswa yang merupakan pemuda adalah  lapisan masyarakat yang akan selalu membelanya. Terlihat jelas pada sumpah mahasiswa Indonesia yang berbunyi, Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah : Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan, Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan, Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Sumpah mahasiswa Indonesialah yang kita jadikan pegangan dalam menyelesaikan kasus seperti pembunuhan Munir ini.  Idealnya seorang mahasiswa harus lah tau  permasalahan apa , atau ketidak adilan apa yang sedang dialami bangsa ini. Tidak ada salahnya turun ke jalan dalam membela hak hak rakyat kecil. Jangan sampai orang orang seperti Munir ini terbunuh kembali. Dan sudah sepatutnya kita mahasiswa  harus melek tentang semua kita adilan yang ada di negeri ini.  




Penulis: Munir Suteja

Yang Menemani Hingga Akhir




Penulis : Resi Triana Sari

Tergores sebuah luka menganga di hati
Secepat mungkin aku berlari, menyendiri dalam sepi
Berusaha tetap tertatih meski harus menapaki
Untuk menagih sebuah janji yang tak pernah ditepati
                        Lembayung senja terus bergulir
                        Hanya meninggalkan secarik fikir
                        Rakus,tamak dan kikir
                        Semua kini melawan takdir
Biar saja merpati biru itu pergi
Pergi tanpa meninggalkan pesan yang berarti
Mungkin saja tak ada yang dinanti
Mengharap mukjizat yang akan datang menghampiri
                        Sosok  yang kini duduk termangu
                        Hanya mampu meraih sebuah Al-Kalam
                        Ia menyalakan sebuah lampu
                        Sambil tersenyum dengan rasa canggung
Lantunan ayat-ayat suci yang terus mengalir
Terus menerus membentuk kombinasi
Alunan syahdu yang menurunkan luapan emosi di dalam hati
Berbisik kecil di telingaku, berjanji menemani hingga akhir masaku 
Dia terus merasuki jiwaku
Mengalirkan energi-energi penuh cahaya
Bahagia, cemas, takut, sedih, cinta, rindu dan haru
Kini semua telah berada dalam sukma
Terus mengalun menemani kesepianku
Tak pernah mengusik sedikitpun ketenangan
Dia selalu mendengar keluh kesahku
Aku akan terus merajut dalam dekapannya
Nada-nada cinta yang tersemat dalam jiwaku dan jiwamu
Frekuensinya mendetakkan musik elektrik jantung ini
Mengembara jauh, mengelana tak menentu
Biarkan aku tenang.. menikmati hidupku dengan irama-irama merdu ini
I Love You My Qur’an
Your sight of my life is not perfect



Jumat, 13 September 2019

Menuju Puncak Dies Natalis Universitas Sumatera Utara ke-67




Gardamedia.org- Dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Sumatera Utara yang ke- 67, Universitas Sumatera Utara mengangkat tema “USU untuk Kemandirin Masyarakat”,tahun ini acara  dimulai pada tanggal 12 September 2019 di Auditorium Universitas Sumatera Utara, diawali dengan kegiatan USU Got Talent. Yang mana USU Got Talent merupakan ajang pencarian bakat pertama yang di lakukan  di USU. Acara  ini di peruntukan bagi seluruh civitas akademika Universitas Sumatera Utara.  

USU Got Talent merupakan wadah yang dapat dijadikan untuk menampilkan, mencari, serta mengasah talenta-talenta yang ada di Universitas Sumatera Utara. Terdapat beberapa bidang perlombaan yang dapat diikuti oleh seluruh civitas akademika Universitas Sumatera Utara, diantaranya paduan suara, stand up comedy, vocal solo/duet/trio, MC, sulap, tari/dance, pantomime, serta band.

Rangakaian acara USU Got Talent diawali dengan pembukaan oleh MC yang juga merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kata sambutan dari Bapak Wakil Rektor II Universitas Sumatera Utara yaitu Prof. Dr. dr. Muhammad Fidel Ganis Siregar, M.Ked, Sp.O.G sekaligus memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang jasa almarhum B.J Habibie, kata sambutan oleh ketua panitia, yang pada tahun ini Ibu Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat yaitu Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, lalu dilanjutkan dengan penampilan seluruh peserta USU Got Talent 2019 yang berjumlah 85 peserta berasal dari bidang lomba yang berbeda, dan diakhiri dengan pengumuman 10 peserta terbaik.

Peserta terbaik pertama diraih oleh bidang lomba vocal solo yaitu mahasiswa S1 arsitektur dengan membawakan sebuah lagu barat yang membuat para juri tersipu hingga merinding, namun pada saat penganugrahan peserta terbaik pertama tidak dapat berhadir, sedangkan peserta terbaik 2 diraih oleh bidang lomba trio yaitu mahasiswa FKM USU yang bernama Mora,   Evita, dan Tamara, mereka berhasil membuat para juri tersipu dengan keharmonisan suara mereka. Nantinya peserta-peserta terbaik pada ajang pencarian bakat ini akan ditampilkan pada puncak acara Dies Natalis Universitas Sumatera Utara ke-67.


Kedepannya acara-acara pencarian bakat di Universitas Sumatera perlu ditingkatkan, karena setiap insan perlu menyeimbangkan antara otak kiri dan otak kanan, terutama civitas akademika USU yang sehari-hari bergelut dengan akademik, maka acara-acara pencarian bakat dapat dijadikan wadah refreshing dari setumpukan pekerjaan akademik.






Reporter : Nahya Rahmatul Ariza



Rabu, 11 September 2019

B.J HABIBIE MENINGGAL DUNIA


Gardamedia.org – Rabu (11/9) Indonesia kembali berkabung atas kepulangan bapak teknologi yakni B.J Habibie pada pukul 18.05 wib di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beliau tutup usia pada umur  83 tahun setelah sebelumnya di rawat kurang lebih dua minggu karena gagal jantung.

Di detik- detik terahir  hidupnya, beliau di temani oleh anak- anak serta cucu cucunya. Presiden ke- 3 Indonesia  ini telah di tangani oleh tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian. Di tambahkan oleh Thareq Kemal yakni anak kedua dari B.J Habibie pada keterangan pers bahwa “tadi jam 18.05, jantungnya dengan sendiri menyerah. Sampai titik terakhir saya dan kaka saya ada disitu tapi hari ini pada tanggal 11 september 2019 jam 18.05 presiden RI ke- 3 Bacharuddin Jusuf Habibie sudah meninggal dunia.” 



Menurutnya juga ayahnya terlalu banyak kegiatan akhir- akhir ini sebelum akhirnya jatuh sakit sehingga kerja jantung tidak mampu mengimbangi.

Jenazah Bapak B.J  Habibie sudah di berangkatkan kerumah duka pada pukul 20.10 wib. Dan akan di makamkan di samping makam istrinya ibu Ainun.



Penulis: Munir Suteja

Selasa, 10 September 2019

Cat Cafe Medan






Gardamedia.org-Kafe atau biasa disebut tempat nongkrong adalah sebuah tempat yang menyediakan makanan atau minuman serta interior dinding untuk menarik minat pengunjung. Namun berbeda dengan kafe satu ini, Cat Cafe. Seperti namanya, kafe ini membawa unsur kucing didalamnya. Bagi pecinta hewan kesayangan Nabi Muhammad SAW ini, Cat Cafe akan sangat menarik untuk dikunjungi.

Kafe yang terletak di Jalan Sei Serayu no. 95 E Kota Medan ini, mulai dibuka pada 2 September lalu. Menghadirkan banyak sekali pengunjung untuk sekadar bersantai menikmati hidangan kuliner atau berswafoto dengan para kucing. Dari lantai 1 pengunjung akan disambut dengan stan Pisang Muncrat. Pisang Muncrat ini merupakan salah satu makanan andalan di Cat CafĂ©, seperti Pisang Pasir yang membumi di Nusantara, Pisang Muncrat juga memiliki karakteristik bentuk dan rasa yang sama. Bedanya, Pisang Muncrat dapat dinikmati setelah atau sebelum melihat-lihat koleksi kucing di Cat Cafe. Selain itu, Pisang Muncrat juga memiliki berbagai rasa seperti Choco Maltine, Choco Green tea, Choco Tiramisu, Choco Cheese, Choco Oreo, dan Choco Nutela yang di bandrol dengan harga Rp. 25.000/porsi. Ditambah dengan minuman cup Ice Tea yang memiliki kemasan unik dan instagramable yang cocok untuk difoto.  


Rizky (Pemilik Cat Cafe)

Untuk koleksi kucing, dapat dinikmati di lantai 2 bangunan persegi panjang ini. Di sini, pengunjung tidak boleh sembarangan untuk masuk ke ruang khusus para kucing. Penjaga ruangan kucing-kucing lucu ini akan memberikan hand sanitizer terlebih dahulu kepada para pengunjung yang hendak masuk, agar kebersihan diri saat menggendong kucing dapat tetap terjaga, sebab kucing-kucing disini terawat dengan baik dan bersih. Kucing-kucing milik Rizky, si empunya Cat Cafe ini berjumlah 17 ekor dengan 11 ras yang berbeda. Diantaranya, kucing ras Himalaya, Spinx, Persia, Munchkin, Domestik, Exotic, Bengal, British Shorthair, American Curl, Meinecoon, dll. Dari semua kucingnya, Kucing Domestik yang merupakan kucing terlama dipelihara oleh Rizky. 

“Dua kucing domestik ini sudah disediain lama, ini (kucing domestik) sudah ikut ke saya sekitar 5 tahun.” terang Rizky sambil memegang salah satu kucingnya. 

Sedangkan kucing-kucing yang lain, berumur 6 bulan atau masih remaja. Rizky sengaja memelihara kucing berumur ‘remaja’ agar tidak terlalu muda hingga membuat kucing mudah kelelahan ketika di kunjungi banyak orang dan tidak terlalu tua agar keaktifan kucing dapat tetap terjaga. Tetapi, sebanyak apapun pengunjung yang menjenguk kucing, pengelola kafe ini tetap memberikan kucing-kucing tersebut waktu untuk beristirahat. Agar para kucing tidak kelelahan ketika bermain dengan para pengunjung. Hal ini dapat diketahui dari instagram kafe ini, @cat_cafe_medan.

Instagram Cat Cafe bisa dibilang cukup eksis. Banyaknya pengunjung yang hadir memotret si kucing sambil memberi tag pada instagram Cat Cafe membuat para millenials penyuka kucing yang melihat, berbondong-bondong hadir ke tempat ini.

Untuk hadir ke kafe ini, cukup order makanan/minuman dengan harga berkisar Rp.40.000 dan pengunjung dapat dengan gratis mengunjungi ruangan khusus kucing untuk bermain sepuasnya dengan para kucing. Makanan dan minuman di kafe ini pun beragam, selain Pisang Muncrat, terdapat pula menu makanan berat lainnya seperti Nasi Ayam Penyet, aneka Nasi Goreng, Mie Ayam, Bakso, dan Indomie. Harganya sendiri dibandrol mulai dari Rp.15.000-Rp.25.000. Sedangkan pengunjung yang tidak mengorder makanan/minuman juga dapat mengunjungi Cat Cafe sekadar untuk melihat kucing-kucing dengan berbagai ras, namun akan dikenakan tarif sebesar Rp.25.000.


Selain bermain dan berswafoto dengan para kucing, pengunjung juga dapat berfoto ria bersama kerabat atau teman-teman nongkrong saat menunggu orderan makanan, sebab desain kafe ini dirancang indah dan instagramable dengan lukisan kucing dan rumah-rumahan kucing. Pengunjung dibuat betah berlama-lama duduk disini, termasuk Dini, salah satu pengunjung Cat Cafe sangat senang dengan hadirnya kafe bertemakan kucing ini.

Ia menuturkan “ada kafe bertemakan kucing di Medan itu wah banget, seneng pokoknya. Apalagi akukan suka kucing. Jadi, datang kesini itu aku seneng aja gitu. Tempatnya juga nyaman untuk makan, untuk main kucing. Recomended sih”

Cat Cafe memang satu-satunya kafe di Kota Medan yang bertemakan kucing. Setelah sebelumnya kafe seperti ini sudah ada di tanah Jawa seperti di Jakarta ataupun Bandung. Kini Masyarakat Medan tidak perlu pergi jauh untuk menikmati kafe bertemakan kucing ini, cukup menggunakan transformasi lokal, Cat Cafe sudah dapat dikunjungi.



Penulis : Indah Ramadhani 
Editor : Nahya Rahmatul Ariza

Kisah Inspiratif Andre Doloksaribu Mendirikan Rumah Belajar Untuk Anak Pinggiran Sungai

Oleh : saturnusapublisher Gardamedia.org (24/05/2023)    - Masyarakat pinggiran sungai sering kali terlupakan keberadaannya, apalagi biasany...