Kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz

Share This
Sumber: google.com

Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Peranan kepemimpinan dalam suatu organisasi atau kelompok sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dan hasil dari capaian tujuan organisasi atau kelompok tersebut. Karena itu, keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien sangatlah ditentukan oleh kehandalan kepemimpinan seorang pemimpin.
Kepemimpinan dalam pandangan Islam merupakan amanah dan tanggung jawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpin nya, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Anfal ayat 27 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Pada masa Dinasti Bani Umayyah ada seorang Khalifah bernama Umar Bin Abdul Aziz. Beliau diangkat sebagai khalifah pada 10 Safar tahun 99 Hijriyah mengantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Namun, bukannya bergembira maupun berbangga diri, Umar bin Abdul Aziz malah menangis tersedu-sedu dan lantas di dalam tangis nya, Umar mengucapkan kalimat, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun”, sambil berujar “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”
Sikap Umar Bin Abdul Aziz juga diuar dari dugaan, beliau menolak untuk tinggal di istana dan menolak untuk menggunakan fasilitas yang diberikan kepadanya. Beliau juga menolak atas perhiasan yang diwariskan dari para leluhur untuk istrinya sebagai kepala pemerintah. Bahkan beliau hanya hidup di rumah sederhana dan jauh dari kemewahan. Sungguh suatu sikap yang berbeda dengan sikap yang ditempuh para pemimpin kita saat ini, banyak pemimpin yang lupa daratan dan mabuk lautan. Mereka mengambil sikap, apabila sudah dilantik menjadi pemimpin, segala janji yang diumbar dan kontrak kinerja yang ditandatangani ketika berkampanye untuk mendapatkan kedudukan, kini hanya janji tinggal janji, tiada satupun yang ditunaikan. Terkadang, jangankan untuk membantu dan memenuhi janji kampanye, untuk bertemu saja pun susahnya bukan kepayang. Sungguh sifat yang jauh bertolak belakang dengan sikap yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz. Umar bersikap, ingin dekat dan mendengar keluhan akan kebutuhan rakyatnya dan ingin secepatnya mengatasi persoalan yang dihadapinya.
Pada masa pemerintahannya, Umar bin Abdul Aziz menerapkan konsep zakat dan shadaqah untuk rakyatnya yang mampu bersama-sama untuk menempaskan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Hasilnya, hanya dalam rentang waktu dua setengah tahun atau tiga puluh bulan masa kepemimpinannya, seseorang yang kaya raya, merasa kesulitan mendapatkan orang yang berhak (mustahiq) menerima zakat, sebab fakir miskin yang selama ini berhak menerima zakat, kini telah berubah menjadi orang yang berkewajiban membayar zakat (muzakki). Semua rakyatnya, hidup dalam kesejahteraan yang memadai.
Seperti itulah pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, sangat jauh berbeda dengan kondisi kepemimpinan kita saat ini. Bahkan pemimpin saat ini dengan tega memakan hak rakyat dan membiarkan rakyat sengsara dalam kemiskinan.  Untuk itu, hendaknya kita jika memiliki amanah dalam hal memimpin suatu kelompok, hendaknya kita bersikap adil dan berusaha mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.


Penulis: Iqlima Assyafa 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages