Header Ads

Pers Boleh Bebas, tapi Jangan Bablas



 Sumber:jurnal patrolinews.com
 
Sejarah pers di dunia dimulai sejak dari bangsa Romawi kuno yang memberikan informasi harian yang dikirmkan dan dipasangkan ke tempat-tempat publik berupa berapa isu dan berita-berita lokal. Kemudian berkembang menjadi sebuah surat kabar yang pertama kali di cetak pada abad 17-18 di eropa Barat, Inggris dan Amerika Serikat. Revolusi Prancis pada abad ke-18 kemudian melahirkan sebuah Undang-Undang Pers Pertama. Sementara di Indonesia, pers di kenalkan oleh para orang-orang Belanda lewat surat kabar, majalah dan koran yang berbahasa Belanda. Tujuannya tentunya untuk membela kepentingan kaum kolonialis Belanda. Pers di Indonesia juga dijadikan sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dari jeratan penjajahan. 
Sesuai dengan UU Pers No.40 Tahun 1999 Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik dengan menggunakan media cetak, media eletronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Yang didalamnya terdapat kegiatan mencari informasi, memperoleh informasi, memiliki informasi, menyimpan informasi, mengolah informasi dan menyampaikan informasi. Pers Indonesia saat ini menikmati kebebasannya dengan menyebutkan bahwa kebebasan pers adalah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Segala tindak tanduk urusan pers kemudian diatur dalam perundangan pers. 
Namun, pers yang menjadi tanda demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan dan gaya hidup masyarakat dewasa kini bukan lagi menjadi sebuah ladang aspirasi masyarakat tetapi telah berubah menjadi alat propaganda politik para pemegang kekuasaan. Pers kemudian dijadikan alat depolitisasi rezim yang berkuasa. 
Media dijadikan sebagai alat dekonstruksi sosial yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dengan mudah nya dapat mengubah persepsi masyarakat bagaimanapun kondisinya. Media menjadi sarana penggiring opini masyarakat. Bagaiamana kita memandang sesuatu dan bagaimana kita bertindak atas sesuatu semua nya secara tidak didasari didikte oleh media yang sehari-harinya di konsumnsi secara intens. 

Media juga sebagai pembuat isu penting yang bisa saja memperkuat atau memperkeruh struktur masyarakat yang semakin kompleks. Media bisa saja membesarkan masalah kecil dan menghilangkan masalah besar. Media dapat memunculkan suatu isu dan secara ajaib menghilangkan nya dengan perlahan kemudian membuat pengalihannya dengan isu lainnya.   
Pers menjadi lahan korporasi seseorang ataupun lembaga tertentu yang mengharapkan tuah kedigdayaan pers. Kehadiran pers yang dikatakan sebagai hadiah dari kebebasan bersuara masyarakat dunia yang kemudian menjadi sebuah alat komersialisasi. Kita kemudian dihadapkan pada situasi penguasa yang melahirkan pers atau pers yang melahirkan penguasa. Di Indonesia bisa kita lihat secara jelas ketika media dipegang oleh kepala-kepala partai yang secara langsung berusaha mendoktrin lewat tayangan baik di dalam media cetak maupun elektronik. Pers bukan lagi menjadi sumber informasi terpercaya bagi siapapun konsumennya.  Pembaca atau penikmat terkadang haruslebih jeli membaca dan mendengarkan. Menganalisis apa yang ada dibelakang suatu berita. Melihat bentuk dari media yang dihadapnnya. Ketika media kritis terhadap suatu isu, masyarakat harus lebih kritis lagi mengkritisi isi kritikan yang di edarkan. 
Pada dunia global yang memerlukan sumber infomasi cepat dan akurat pers seharusnya dapat menjadi wadah pendidikan masyarakat yang menyajikan beragam edukasi dan dapat menjadi sumber inspirasi. Pers juga harusnya berpihak kepada masyarakat bawah yang berusaha untuk menyuarakan suara mereka agar didengar oleh para pemegang kuasa. Pers harusnya menjadi ladang kreasi dan inovasi anak bangsa untuk selanjutnya diapresiasi khlayak dunia.  
Dimana letak pers kita? Apakah kebebasan selamanya harus bebas? Selamat hari kebebasan pers dunia!

Penulis: Nanda Rizka Nasution 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.