Kontra Dibalik Perayaan Valentine Day, Muslim Wajib Tahu - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Kontra Dibalik Perayaan Valentine Day, Muslim Wajib Tahu

Share This
Sumber: Intermet

Gardamedia.org- Pada tanggal 14 Februari, sejumlah masyarakat terutama yang muda-mudi, termasuk yang beragama Islam latah mengucapkan dan merayakan 'Valentine Day' itu. Tak terkecuali, geliat pedagang yang memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan keuntungan. Seperti menyediakan tempat nongkrong dan kongkow-kongkow yang penuh pernak-pernik merah muda. Juga kafe yang ikut berlomba-lomba menawarkan paket-paket romantis plus suasana nan cozy (nyaman) bagi para pengunjungnya. Lantas, ada apa sebenarnya pada hari yang penuh pro dan kontra ini? Bagaimana perspektif Islam membahasnya? Mari, kita telaah satu persatu.

Sejarah
Jika merunut kepada sejarah, hari Valentine (Bahasa Inggris: Valentine's Day) adalah sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta mengutarakan rasa cintanya.
Di zaman modern ini, perayaan Valentine Day disamarkan dengan sebutan "Hari Kasih Sayang".

Didominasi oleh Wanita 
Seperti dikutip dari Liputan6.com, mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi massal kartu ucapan selamat. Dan, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan, bahwa diseluruh dunia sekitar satu miliar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan, bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85℅ dari semua kartu Valentine. Hal ini menunjukkan, bahwa umumnya wanitalah yang paling senang dengan momen seperti ini.

Dalam perkembangannya, setidaknya ada tiga alasan umat Islam untuk menolaknya, diantaranya:

1. Menimbulkan kesyirikan
Valentine's Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine's Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi, acara Valentine's Day menjadi ritual agama Nasrani, yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.

2. Menyerupai Budaya Kafir,
Hari Valentine Day juga adalah hari penghormatan kepada tokoh Nasrani, yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta. Yang secara tidak langsung umat muslim yang merayakannya mengakui bahwa Yesus sebagai anak Tuhan. Na'udzubillahi min dzalik.

"Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa" (QS. Al-Ikhlas: 1).

Maka, maksud menyerupai budaya orang kafir disini, yaitu menyerupai dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka. Salah satunya, ya, merayakan hari 'Valentine Day' ini.

Dari Ibnu Umar, beliau berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka" (HR. Abu Dawud, Hasan).

3. Berujung Zina
Zina yang dimaksud disini tidak melulu harus dikonotasikan dengan bersetubuh atau bersenggama. Melainkan perilaku maksiat lain seperti berpacaran, bergandengan tangan yang bukan mahram, berpelukan, terlebih lagi berciuman merupakan hal-hal yang sudah mendekati zina. Masalahnya, mendekatinya saja haram apalagi melakukannya.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk" (QS. Al-Isra'[17]: 32).

Negara yang Melarang 
Malaysia mungkin pernah menjadi salah satu negara berbasis kerajaan yang tokoh Islamnya gencar menyuarakan umat Islam agar tidak menyambut Hari Kasih Sayang, karena terdapat unsur-unsur Kristen. Mantan Perdana Menteri Datuk Seri Muhyiddin Yassin, sebagaimana dikutip dari utusan online, kala itu menyatakan perayaan tersebut "tidak sesuai" untuk umat Islam, alias bertentangan dengan ajarannya.

Pada tahun 2011, sebagaimana dikutip pula dari The Jakarta Globe dengan judul, "Malaysia Arrests 100 Muslim Couples for Celebrating Lovers Day", diberitakan bahwa, pihak berwajib agama Malaysia telah menangkap lebih dari 100 pasangan muda-mudi beragama Muslim, karena merayakan Hari Kasih Sayang.

Di Indonesia sendiri, Aceh dan Jawa Barat, begitupula beberapa daerah lainnya juga menjadi daerah yang paling keras menentang perayaan hari ini, yang biasanya dimotori oleh santri-santri pesantren maupun Aktivis Dakwah Kampus (ADK).

Pada akhirnya, semua berpulang kepada umat Islam, "maukah berpegang teguh pada keyakinan dan akidahnya?". Bukan malah ikut menjadi pelopor Hari Kasih Sayang tersebut. Sebab, ini jelas-jelas telah membesarkan hari, dimana orang tersebut tidak pernah bersujud kepada Allah SWT dan tak pernah mengenal Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah kita lebih baik merayakan ata droe (punya sendiri) semisal merayakan Hari Maulid (Kelahiran) Nabi Muhammad SAW, yang jelas-jelas beliau telah menebarkan benih-benih kasih sayang ke seantero negeri. Kiban syara? Ci pikee! (Bagaimana saudaraku? Cobalah dipikir-pikir lagi! Wallahu'alam bish shawab.


*Penulis adalah Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi USU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages