Header Ads

Bolak-balik Merombak Tim Sukses, Donald Trump Sukses Menjadi Presiden Terpilih Amerika


Gardamedia.org- Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa lalu (08/11) memang mengundang banyak kontroversi. Salah satunya demonstrasi di berbagai kota di Amerika Serikat yang terus berlanjut untuk menentang kemenangan Donald Trump. Warga turun ke jalan-jalan di kota-kota besar, termasuk di New York, Los Angeles, Philadelphia, Denver, San Fransisco, Baltimore, Boston,  Portland, dan Minneapolis. Rata-rata dari para demonstran itu tidak lain adalah anak-anak muda yang berpendapat bahwa kepemimpinan Trump akan menimbulkan jurang perbedaan perbedaan atas dasar ras dan jenis kelamin, dilansir dari BBC.

Namun kemenangan Trump ini tidak lain juga merupakan kerja keras tim sukses yang ada di belakangnya. Seperti film “ The Ides Of March” yang mengingatkan kita tentang kerja keras tim sukses (Stephen Meyers) dalam memenangkan gubernur dan calon presiden (Mike Morris). Di mana Mike Morris ini bersaing ketat dengan Ted Pullman untuk menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat. Kedua tim sukses mengerahkan taktik dan strategi untuk memenangkan kompetisi termasuk memecah−belah tim lawan.

Sama halnya dengan Mike Morris di film The Ides Of March, Donald Trump pun memiliki orang-orang intelek yang merupakan tim sukses kampanyenya. Sebelumnya presiden Amerika Serikat dari Partai Republik ini, Donald Trump, melakukan perombakan susunan tim sukses kampanyenya dengan mengangkat Stephen Bannon sebagai Kepala Eksekutif kampanyenya dan mempromosikan Kellyanne Conway sebagai Manager Kampanye. Langkah ini ditujukan setelah hasil jajak pendapat dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan dukungan responden terhadap Presiden Amerika Serikat ini menurun.

Presiden Amerika ini nekat memilih orang-orang baru dalam tim kampanyenya saat tinggal 82 hari (17/8) menuju pemilu presiden AS yakni 8 November lalu. Ia mengambil Bannon dan Conway sebagai tim kampanye barunya dengan harapan bisa membantunya mengalahkan Hillary Clinton, calon Presiden AS dari Partai Demokrat.

Sebelumnya pada Juni lalu Paul Manafort ditunjuk Presiden AS, Donald Trump sebagai ketua tim suksesnya menggantikan Corey Lewandowsky. Namun pada Jumat (19/08) lalu, Paul Manafort menyatakan pengunduran diri di bawah bayang-bayang investigasi korupsi Ukraina. Manafort yang dikenal sebagai ahli strategi yang pernah menjadi penasihat sejumlah kandidat presiden hingga ke masa Gerald Ford ini menyusul pekan-pekan berisi laporan media terkait krisis terhadap presiden AS. Peran Manafort dalam kampanye Trump terpinggirkan pada awal pekan kehadiran Kepala Eksekutif (Stephen Bannon) serta manajer kampanye (Kellyanne Conway). 

Pengunduran diri Manafort ini merupakan pukulan telak bagi Presiden AS, Donald Trump, yang tengah sibuk menghadapi pertarungan dengan Hillary Clinton untuk menjadi penguasa Gedung Putih saat itu. Namun sepertinya Donald Trump tidak terlalu menghiraukan atas hengkangnya Manafort sebagai ketua tim suksesnya dan terus melanjutkan perjuangan perebutan Gedung Putih. 

Meskipun sempat terpukul akibat kepergian Manafort, Trump dapat membuktikan bahwa ia pantas memenangkan pemilu presiden AS. Dalam pemilihan yang berlangsung Selasa (8/11) kemarin, Trump mendapatkan 276 suara pemilu (electoral votes). Hasil itu membawanya ke Gedung Putih, yang akan ditempatinya pada 20 Januari 2017 mendatang. 

Sejumlah kontroversi mengapa Trump menang bermunculan paska tidak menerima kemenangan Trump. Padahal sebelumnya tim sukses Donald Trump menyebutkan bahwa kandidat presiden dari Partai Republik ini tertinggal dari saingannya Hillary Clinton. 

Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil sejumlah jajak pendapat pada minggu (23/10) silam yang memperlihatkan keunggulan Clinton atas Trump di negara-negara bagian. 

“Kami berada di belakang. Dia memiliki sejumlah keunggulan,” kata manajer tim kampanye Trump, Kellyanne Conway. 
“Kami tidak menyerah. Kami mengetahui bahwa kami dapat memenangi ini,” tambahnya seperti diwartakan BBC. 

Bahkan pada Jumat (21/10), Trump sempat menyampaikan pendapatnya terkait pemilu nantinya yang menyatakan dia mungkin kalah.

Namun Donald Trump membalikkan semua analisis dan kembali sebagai pemenang. Dalam pidato kemenangannya pada Rabu (09/11), presiden terpilih Donald Trump menyerukan kepada rakyat AS untuk bersatu padu. Dia juga berjanji untuk menjadi presiden bagi seluruh rakyat Amerika setelah dalam masa kampanyenya mengecam umat Muslim, masyarakat Amerika Latin dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Saya berikrar kepada setiap warga dari tanah air kita bahwa saya akan menjadi presiden bagi setiap orang Amerika. Dan itu sangat penting bagi saya.”

Menurut manajer kampanye Trump, Kellyanne Conwey, presiden terpilih sudah mengadakan ‘pembicaraan hangat’ dengan Hillary Clinton calon presiden dari Partai Demokrat dan ‘percakapan hangat’ dengan Presiden Barrack Obama. 

Dalam pidatonya, Trump juga menyebutkan bahwa di antara prioritasnya setelah menjabat presiden nanti adalah memperbaiki infrastruktur yang hancur dan melipatgandakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Sebelum berpindah ke Gedung Putih pada 20 Januari 2017, terdapat masa transisi selama 10 minggu dan Trump menunjuk Chris Christie sebagai ketua tim transisi. Christi sendiri adalah seorang gubernur New Jersey dari partai republik.

Kemudian diketahui bahwa pada Senin, (14/112016), Trump mengumumkan Reince Priebus untuk menjadi Kepala Staf Gedung Putih. Priebus adalah Ketua Komite Nasional Partai Republik dan penasihat setia kampanye Trump, seperti dilansir oleh The New York Times.

The Wallstreet Journal menulis, terpilihnya Priebus tidak lebih dari upaya Trump untuk melakukan pendekatan konvensional setelah ia “memberontak” semasa berkampanye. Priebus dinilai sebagai sosok politikus matang yang dapat menjembatani hubungan Trump dengan Ketua DPR, Paul Ryan, yang meski tidak berseteru, tetapi juga tidak bisa dikatakan harmonis.

Presiden terpilih AS itu juga menunjuk Stephen Bannon menjadi kepala strategi dan penasihat seniornya yang sebelumnya menjabat menjadi kepala eksekutif kampanyenya. Sebelumnya posisi kepala strategi dan penasihat senior Trump diduduki oleh Paul Manafort yang memilih hengkang Agustus lalu. 

Penulis: 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.