Selasa, 29 November 2016

Bersama Smart Generation Community, Raih Prestasi Tetap Islami


Gardamedia.org–  Medan, jum’at (25/11) Smart Generation Community (SGC) Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Smart One dengan tema “Cendikiawan Muslim Aktif dan Prestatif”. Aacara ini dilaksanakan di Badan Pemberdayaan Masyarakat (BAPEMAS) dan taman Cadika Johor. Sedangkan peserta dalam acara ini berasal dari seluruh mahasiswa di USU.

Acara ini di laksanakan selam 3 hari 2 malam, yang dimulai sejak tanggal 25 November sampai 27 november. Peserta dalam acara ini berjumlah 60 orang yang merupakan mahasiswa USU yang telah lulus tahap seleksi berkas dan wawancara. Setelah mengikuti Smart One ini masih ada tahap penyaringan yang akan dinilai dari keaktifan dan prestasi yang diraih peserta seiring berjalannya waktu.

Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk menjaring mahasiswa terbaik USU, mencerdaskan yang soleh dan mensolehkan yang cerdas. Jadi bukan sekedar ajang recruitmen biasa melainkan recruitmen mencari yang terbaik supaya USU tetap maju, meningkatkan akreditas USU dari lomba essay dan prestasi lainnya”, ujar Irfan selaku ketua panitia.

Beberapa rangkain acara antara lain seperti pemberian materi motivasi, latihan menulis essay dan karya tulis ilmiah (KTI), ice breaking dan games tentang pendidikan.

Irfan juga berharap acara ini dapat meningkatkan prestasi masing-masing mahasiswa setelah di rekrut, dapat memiliki prestasi dalam segi apapun baik itu seni, akademik, essay, LKTI,  yang bisa meningkatkan akreditas fakultas dan universitas. Selain itu dapat menghasilkan generasi-generasi cemerlang dalam pendidikan dan cemerlang dalam soft skill.

Reporter : Khoirul Rozi 

Jumat, 25 November 2016

Solidaritas untuk Rohingya, Sejumlah Mahasiswa USU Gelar Aksi Dana


Gardamedia.org- Kondisi umat muslim Rohingya saat ini begitu memprihatinkan. Mereka bagai terasing di negara mereka sendiri. Penggusuran, pembakaran jasad hidup-hidup, pembakaran desa, pemerkosaan, hingga pembantaian secara massal sudah menjadi ancaman yang mereka hadapi setiap harinya. Penguncian akses bantuan untuk muslim Rohingya oleh Pemerintah Myanmar pun turut menambah beban yang mereka hadapi. 

Berangkat dari keprihatinan inilah sejumlah mahasiswa USU yang menamakan diri mereka Aliansi Mahasiswa Peduli Myanmar (AMPER) turun ke jalan untuk menggalang dana (25/11). Aksi yang dilaksanakan pada tiga titik (Simpang kampus USU, simpang lampu merah Setia Budi, dan simpang Sumber) merupakan bentuk kepedulian AMPER terhadap musibah yang menimpa muslim Rohingya. 

Wira Putra, mahasiswa jurusan Sastra Arab stambuk 2013 yang juga sebagai penggagas aksi ini berharap besar bahwa apa yang mereka lakukan bisa meringankan beban muslim Rohingya. Wira juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah Republik Indonesia untuk turut serta membantu menyelesaikan masalah tersebut.

"Kami juga berharap pemerintah RI turut serta membantu muslim Rohingya, dan kalau bisa Presiden sendiri yang langsung mengambil sikap. Karena kami berfikir ini adalah sebuah pelanggaran HAM yang besar. Bisa dengan memutuskan hubungan bilateral kedua negara jika penindasan ini tetap berlanjut." tuturnya.

Kordinator lapangan pada aksi ini, Luwa Heru (nama panggilan), mahasiswa Ilmu Perpustakaan stambuk 2014 juga menyampaikan harapannya dengan terselenggaranya aksi ini.  

"Semoga aksi ini bisa menjadi pelopor dan pembangkit semangat sesama muslim agar lebih peduli terhadap saudara-saudara yang ada di Myanmar khususnya." ucap beliau. 

Heru juga mengatakan setelah aksi perdana ini, AMPER juga akan melakukan aksi susulan beberapa waktu ke depan. 

"Rencananya akan dilaksanakan aksi susulan dalam bentuk konser amal oleh beberapa nasyid di kota Medan, sekaligus penggalangan dana disana." tambahnya. 

Dana yang berhasil terkumpul pada aksi perdana ini sebesar Rp. 1.792.000 dan akan disalurkan melalui Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) kota Medan. 


Reporter Garda Media USU

Senin, 21 November 2016

Membangun Peradaban Islam


Gardamedia.org- Secara etimologis bahasa Arab, Peradaban adalah manhaj berpikir atau gerakan umat dari berbagai tingkatan, baik  dalam bentuk fisik maupun non-fisik. Namun, bagaimana cara untuk membangun kembali sebuah peradaban dengan munculnya hegemoni lain? Salah satu caranya ialah dengan membangkitkan lagi peranan umat muslim, yang mungkin sudah lama tenggelam.

Belakangan kita tahu, bahwa saudara kita di desa Rakhine Myanmar telah dibantai secara biadab oleh junta militernya. Padahal, pemimpin negeri itu adalah Aung San Suu Kyi yang kita kenal sebagai penerima nobel perdamaian. Namun bombardir tetap dijatuhkan ke muslim tak berdosa itu dengan dalih mereka (sekitar empat persen) ialah pendatang dari Bangladesh.

Akan halnya peradaban, Kita mesti saling berangkulan, dan seluruh komponen harus bersatu dalam hal membela saudara kita yang tertindas ini. Bersatu dalam membela kaum Rohingya yang tertindas di negerinya sendiri. Sebab peradaban Islam itu dibangun saat seluruh umat bersatu dan melepas segala sekat-sekat perbedaan yang ada. Baik itu HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Nahdhatul Ulama, FPI (Front Pembela Islam), Sufi, Salafi, Muhammadiyah dan lain-lain.

Maka, kita sebagai umat muslim wajib mendesak PBB dan OKI untuk menindak kejahatan kemanusiaan yang terjadi kepada minoritas Rohingya. Dan, perlu adanya media-media Islam yang terus menyuarakan tragedi kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat di sana. Agar dunia tahu, apa yang dilakukan junta militer dan pemerintahan Myanmar kepada warga negaranya sendiri. Sebab, mereka berhak untuk tetap hidup di dalam negaranya, dan tidak boleh mendapatkan kekejaman.  

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat (49): 10).

Hadist Rasul yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir berbunyi: 

 “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Terakhir, umat Islam cinta Islam, dan benci kepada mereka yang menindas Islam. Maka, mari sama-sama kuatkan tekad untuk membangun kembali peradaban Islam, salah satunya lewat persatuan Islam dalam menolong saudara kita yang ditindas. #SaveRakhine #SaveRohingya. 

Penulis: Khairullah Mustafa 

Minggu, 20 November 2016

Tuduhan Ahok pada Pendemo Aksi 4/11


Gardamedia.org- Kasus gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang merupakan seorang tersangka dalam kasus penistaan Al-Qur’an menambah argumennya atas tuduhan yng mengatakan bahwa para pendemo aksi 4/11 merupakan aksi yang mempunyai motif-motif politik didalamnya. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan ABC 7.30, (Dikutip dari Republika.co.id, Jakarta) Ahok menuduh pengkritiknya korupsi dan mengatakan, protes massa Muslim garis keras pada 4 November 2016 itu bermuatan politik. Dia juga menuduh massa menerima uang Rp 500 ribu untuk ikut demo. "Saya harus pergi ke pengadilan untuk membuktikan ini adalah politik dan bukan (persoalan) hukum," katanya kepada ABC 7.30. Terkait hal tersebut, Ahok tidak tahu siapa yang membiayai aksi demo terbesar tersebut. 

Sementara di pihak yang berbeda yakni salah satu Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) tidak terima atas tuduhan fitnah yang mengatakan bahwa para demostran diberi uang sejumlah Rp. 500 ribu. Ia mengatakan (dikutip dari Republika.co.id, jakarta) "Saya merasa dituduh terima uang Rp 500 ribu atas unjuk rasa 4 November lalu. Walaupun bukan saya yang terima uangnya, saya minta Ahok coba tunjuk siapa yang terima uang itu," ujar anggota ACTA, Herdiansyah di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Kamis (17/11). Atas hal tersebut, ACTA melaporkan tuduhan tersebut dengan nomor laporan LP/1153/XI/2016/Bareskrim pada tanggal 17 November 2016 dengan perihal dugaan tuduhan fitnah yang dilakukan Ahok. Hal tersebut dijelaskan oleh Herdiansyah dalam laman ABC.net dengan judul "Ahok Suspect in Blashemy Case". 

Selain itu Herdiansyah juga menambahkan, bahwa tuduhan tersebut telah menghina para ulama disebabkan aksi damai tersebut juga diikuti oleh sebagian besar para ulama. Perihal yang mengatakan penghinaan para ulama yakni yang berkaitan dengan penerimaan uang Rp. 500 ribu oleh para demonstran.

Penulis: Novita 

Donald Trump dalam The Simpsons


Gardamedia.org- Pro dan kontra bermunculan pasca pengumuman kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS pada pilpres hari Selasa (8/11). Segala yang berkaitan dengan Donald Trump pun menjadi hangat diperbincangkan. Meninggalkan aksi unjuk rasa besar-besaran menolak kemenangan Donald Trump yang dilakukan oleh ribuan warga di berbagai penjuru Amerika dan gelombang protes anti-Trump seperti yang dilaporkan oleh CNN, ada topik lain yang juga tidak kalah menarik untuk diperbincangkan. Perbincangan hangat tentang munculnya gambar-gambar yang tersebar di dunia maya yang mengaitkan antara Donald Trump dan The Simpsons. The Simpsons sendiri ialah serial kartun Amerika Serikat. Meskipun berformat kartun, The Simpsons merupakan acara yang ditujukan untuk pemirsa dewasa. Tema-tema yang diangkat beraneka ragam dan tak jarang memasukkan topik yang sensitif. Serial ini banyak dikenal atas komedi satir yang menyinggung kehidupan sosial di Amerika Serikat pada khususnya.

Bukan hanya itu, acapkali di beberapa episode serial kartun tersebut menayangkan cerita yang beberapa tahun kemudian orang-orang akan berkata “Kejadian itu mirip dengan salah satu episode The Simpsons”. Ya, dan itulah yang kemudian diangkat menjadi tema gambar-gambar yang bermunculan belakangan ini di media sosial, tentang kemiripan beberapa adegan di The Simpsons dengan kehidupan nyata kemenangan Donald Trump saat ini. Di gambar tersebut terlihat dua sisi, sisi kartunnya dan sisi aslinya yang terlihat sangat mirip yang seolah menunjukkan kepada kita bahwa itu loh gerak-gerik beliau yang mirip dengan adegan di The Simpsons. 

Adegan-adegan tersebut ada di salah satu episode The Simpsons “Bart to the Future” 16 tahun lalu sebelum akhirnya episode itu menjadi kenyataan. Sehingga, banyak orang berspekulasi bahwa The Simpsons telah memprediksi kemenangan Donald Trump jauh-jauh hari bahkan 16 tahun yang lalu. 

Dalam salah satu episode pada tahun 2000 itu, Lisa Simpsons digambarkan duduk di Ruang Oval, Gedung Putih, dan dikelilingi beberapa penasihat. Dia menyebut, pemerintah AS diwarisi krisis anggaran oleh Presiden Trump. "Kita telah diwarisi krisis anggaran dari Presiden Trump. Seberapa buruk itu Sekretaris van Houten?" tanya Lisa kepada karakter Millhouse.

Sedangkan pada tahun 2015, episode The Simpsons yang berjudul Trumptastic Voyage menampilkan adegan yang paling mirip pada saat Trump menuruni eskalator dan menyapa para pendukungnya. Bedanya, bila di kehidupan nyata Trump ditemani oleh sang istri, sedangkan di The Simpsons, Trump ditemani oleh Homer Simpsons.

Lantas apakah itu hanya suatu kebetulan? Mengingat akurasi yang ditayangkan tidak meleset. Orang-orang menjadi semakin penasaran dan bertanya-tanya bagaimana serial kartun tersebut dapat menciptakan episode yang 16 tahun kemudian seperti menjadi suatu kenyataan? Seberapa hebat sang penulis hingga ia dapat “meramal” masa depan? Tentu harus ada alasan logis yang menyertainya.

Sang penulis, Dan Greaney sempat mengatakan kepada Hollywood Reporter, bahwa episode belasan tahun lalu adalah peringatan untuk Amerika.  "Itu memang prediksi yang logis sebelum (Amerika) benar-benar hancur. Prediksi itu terjadi sama seperti visi Amerika yang kian menggila," katanya seperti dilansir Mirror.co.uk.

"Kami menulis tentang Donald Trump yang mudah untuk dicintai, karakter yang baik dan tidak memiliki sisi gelap. Dalam episode kala itu, sama sekali tidak ada dibuat tentang Trump yang menghujat warga Meksiko ataupun Islamophobia," ujarnya. 

Sementara, Eksekutif Produser The Simpsons, James L. Brooks, ternyata sangat terkejut ketika hasil penghitungan merealisasikan prediksinya. Lewat akun Twitternya @canyonjim, Brooks menunjukkan rasa kagetnya.

"F*** mengecewakan!" katanya.

Lewat sang penulis dan eksekutif produser tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pihak The Simpson mengklarifikasi bahwa mereka tidak ada kaitannya dan tidak tahu apa-apa tentang kemenangan Trump. Hal itu hanya prediksi semata, bahkan mereka “merasa” kecewa ketika Trump terpilih menjadi presiden. 

Pernyataan untuk menjauhkan diri dari anggapan bahwa ramalan The Simpsons sebagai bagian dari teori konspirasi di dunia. Konspirasi adalah suatu tindakan rahasia yang sangat terencana untuk melakukan suatu tindakan yang ilegal atau salah ( Robbert O. Zelency : 1987 ). Jika dilihat dari pengertian konspirasi tersebut, Episode “Bart to the Future” dan “Trumptastic Voyage” bisa jadi terindikasi konspirasi ini karena adanya kerahasiaan yang sengaja diselipkan di dalam beberapa adegan-adegan tersebut secara tersusun dimana para penonton di kala itu tidak mengerti dan hanya menganggapnya sebagai hiburan semata, lalu beberapa tahun kemudian seolah dunia mengamini, episode-episode tersebut menjadi nyata.

Meskipun, pihak The Simpsons berdalih bahwa itu hanyalah kebetulan semata, namun apakah ada kebetulan yang terus terjadi berulang-ulang? Mengingat bukan kali ini saja “ramalan” The Simpsons tepat. Beberapa peristiwa lainnya seperti penyebaran virus ebola, munculnya kamera GoPro, korupsi federasi sepakbola dunia FIFA, memprediksi pencuri minyak hingga tragedi 911 di WTC  juga berhasil diramalkan The Simpsons. 

Kemiripan dengan peristiwa-peristiwa tersebut yang ditampilkan di beberapa episodenya tentu tidak dapat kita katakan hanya kebetulan semata. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan di dalam cerita-cerita tersebut yang telah direncanakan. Dan jika tidak, haruslah penulis ataupun para pekerja The Simpsons adalah orang-orang yang sangat jenius yang dapat membaca pergerakan dunia berjalan kearah mana, bahkan untuk peristiwa-peristiwa yang akan terjadi belasan tahun kemudian.

Penulis: Nisa Angraini

Jenderal Gatot: Islam itu Indah dan Sangat Indah


Gardamedia.org- Aksi Bela Islam, Jumat (4/11) lalu banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama Jakarta dan ternyata mendapat perhatian lebih dari seorang Panglima Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo. Masyarakat Indonesia kerap dibuat kagum oleh pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan di beberapa acara televisi yang membahas Aksi Bela Islam ini. Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (56) lahir di Tegal, 13 Maret 1960. Ia adalah Panglima TNI yang resmi menjabat sejak 8 Juli 2015. Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  untuk menggantikan jenderal TNI Budiman. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Pangkostrad menggantikan Letjen TNI Muhammad Munir. Pada Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Jokowi sebagai calon Panglima TNI, mengantikan Jenderal Moeldoko yang tengah masuk waktu purna baktinya. Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982 yang berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad. Gatot pernah menjadi Komandan Kodiklat TNI-AD, Pangdam V/Brawijaya dan Gubernur Akmil. Selain itu, Gatot juga adalah Ketua Umum PB FORKI periode 2014-2018.  

Gatot bersama Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradi, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Ketua MPR Zulkifli Hasan menjadi bintang tamu di acara Mata Najwa bertema Menjaga Bhineka, Rabu (2/11) lalu. Ketika Najwa Shihab melontarkan pertanyaan yang dinilai mem-framing Aksi Bela Islam, Jenderal Gatot Nurmantyo justru memberikan jawaban yang membela islam.

"Kalau tentara sudah turun tangan, berarti skalanya berbeda nih. Apakah skalanya berbeda yang unjuk rasa besok?" tanya Najwa Shihab kepada Jenderal Gatot. 

"Nana,” jawab Jenderal Gatot dengan mengawali menyebut nama panggilan Najwa Shihab, “Dalam konteks ini mari kita berpikiran positif. Bahwa yang akan melaksanakan demo itu adalah saudara-saudara kita sebangsa se-Tanah Air. Mereka kata Kiai Abdul Mu'ti tadi, tidak punya tempat di Mata Najwa. Sehingga mereka di jalan raya, ke Istana (Negara). Jadi kita berpikiran positif. 

Kalimat “tidak punya tempat di Mata Najwa” itulah yang menuai banyak pujian dari masyarakat. 

Selain itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga diundang menjadi bintang tamu di acara ILC Indonesia Lawyer Club dengan tema Setelah 411 yang disiarkan TV One pada Rabu (9/11) malam. Dalam sesi ketika pembaca acara ILC, yaitu Karni Ilyas, bertanya tentang Panglima TNI ingin menjadi presiden, Gatot menjawab dengan bijak.

"Saya patuh pada atasan saya yakni presiden dan patuh pada sumpah jabatan dan setia pada Alquran saya bangga menjadi muslim karena saya bersumpah dengan Alquran, TNI disuruh oleh presiden menjaga kebhinekaan. Saya tidak ada niat sedikitpun jadi presiden. Ini murni semata tugas menjaga kebhinekaan, saya bersedia jadi tumbal jika itu diperlukan" kata Gatot.
"Demo 411 betul-betul sangat indah dan damai. Dengan tenang, tertib menyampaikan, sehingga mereka mematuhi aturan yang disampaikan Pak Kapolri." Lanjutnya. 

"Islam itu indah dan sangat indah, apa yang dilakukan umat islam 411 itulah keindahan dalam berdemokrasi karena Islam itulah keindahan Islam itulah Indonesia dan itulah kebhinekaan, hal ini terlihat ketika ada resepsi seorang Nasrani di Kathedral, umat Islam membersihkan area kathedral supaya gaun yang panjang yang dipakaipenganten ini tidak kotor, itulah kebhinekaan," pungkasnya. 

Kalimat “Islam itu indah dan sangat indah” ini dinilai benar-benar dapat meyejukkan hati masyarakat khususnya umat islam yang dapat menjaga kedamaian dalam menyampaikan aspirasinya sekalipun dengan jumlah massa yang sangat banyak.

Jenderal Gatot Nurmantyo diundang bersama Aa Gym di acara tersebut dan beberapa waktu lalu telah banyak beredar broadcast percakapan keduanya sebelum acara ILC dimulai. Percakapan itu disinyalir telah disampaikan pada saat Manajemen Qolbu Pagi bersama Aa Gym di Mesjid Daarut Tauhid Jakarta. Mengenai beredarnya pesan percakapan antara Aa Gym dengan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo itu, pihak Daarut Tauhid dan Aa Gym pun membantahnya dengan mengunggah press release terkait klarifikasi soal broadcast tersebut. 

Rilis ini juga diunggah di akun instagram pribadi milik Aa Gym. "Siapapun yang menyebar berita palsu, pasti diketahui oleh Allah dan pasti ada balasannya, semoga segera tobat," kata Aa Gym dalam akun Instagram pribadinya sambil mengunggah rilis dari Daarut Tauhiid, Jumat (11/11). 

Penulis: Muti Karimah


Sumber: Wikipedia, tarbiyah.net


Kemenangan Trump: Kekhawatiran yang Berujung Kekuatan


Gardamedia.org- Kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat hari Rabu lalu menimbulkan beragam reaksi dari seluruh warga dunia. Hal itu dipicu oleh pernyataan-pernyataan kontroversial yang dilemparkan oleh Trump pada saat melakukan kampanyenya sewaktu menjadi kandidat calon presiden AS beberapa waktu lalu. Beberapa di antaranya yaitu pembangunan tembok antara Meksiko dan Amerika Serikat serta larangan bagi kaum Muslim untuk memasuki wilayah Amerika Serikat. Pernyataan tersebut tentunya tak hanya menimbulkan keresahan bagi umat Muslim di AS saja, melainkan juga umat Muslim di seluruh dunia.
Trump, pada pidato pertama pasca kemenangannya, memberikan penyataan yang berbeda dari masa kampanye sebelumnya. Ia mengatakan bahwa ia berjanji pada seluruh warga di Amerika Serikat akan menjadi presiden untuk seluruh rakyat Amerika, seluruh ras, agama, latar belakang dan keyakinan. Pernyataannya tersebut terkesan menyejukkan, tetapi tidak meyakinkan, terutama bagi kaum minoritas yang ada di Amerika Serikat seperti orang kulit hitam dan umat Muslim. Ini bisa jadi hanya dijadikan sebagai pemanis oleh Trump di awal kemenangannya agar mendapatkan simpati dari warga Amerika. Seperti yang diketahui bersama, pada peristiwa 11 September 2001, media memberitakan secara besar-besaran bahwa Islam adalah agama teroris. Semenjak saat itu, umat Muslim, terutama yang berada di Amerika tak lagi mendapatkan tempat dan perlakuan yang baik. Mereka dipinggirkan, dilecehkan, bahkan dikucilkan.
Ada kekhawatiran besar yang dirasakan oleh umat Muslim di sana saat ini, bahwa kebebasan mereka dalam beraktivitas akan semakin dibatasi. Bagi Hiba Nasser, salah seorang warga Muslim yang menetap di AS, kemenangan Trump membuatnya takut keluar rumah. Nasser yang berhijab itu khawatir kemenangan Trump akan semakin mendorong orang-orang membenci Islam. Dia mengaku dirinya sudah banyak mengalami pelecehan selama ini. Orang-orang menyebutnya teroris dan mengatakan padanya bahwa berada di negara tersebut adalah salah dan ia harus pergi. Meskipun begitu, para pengkritik menuding Trump memainkan ketakutan terhadap Islam atau Islamofobia dan stereotype negatif hanya untuk menarik perhatian warga AS selama kampanye.
Terlepas dari benar atau tidaknya isu nasib umat Muslim yang akan terancam pasca kemenangan Trump, ada sebuah fakta menarik yang mungkin bisa menjawab pertanyaan mengapa umat Muslim begitu dianggap sebagai musuh dan harus dibinasakan. Pada sebuah survei yang dimuat dalam Reader’s Digest Almanac Book pada tahun 1984, ditunjukkan bahwa perkembangan agama di dunia dalam jangka waktu 50 tahun dari 1934 sampai 1984 dirajai oleh agama Islam. Perkembangan tersebut terus meluas hingga saat ini di berbagai belahan dunia. Inilah yang membuat mereka yang antiislam semakin memikirkan cara bagaimana agar Islam tak berkembang semakin pesat.
Amerika yang dikenal sebagai negara super power tentunya memiliki pengaruh yang sangat besar bagi negara-negara di dunia dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakannya. Apabila kebijakan Trump untuk melarang umat Muslim memasuki wilayah Amerika atau membatasi ruang gerak warga Muslim yang bertempat tinggal di sana benar-benar diterapkan, maka hal ini memungkinkan akan menimbulkan reaksi yang begitu besar dari seluruh umat Islam, tak hanya yang berada di Amerika saja, tetapi dari seluruh dunia. Mereka, umat Muslim di luar Amerika, akan bangkit membela hak saudara-saudaranya yang terpangkas. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Zakir Naik pada ceramahnya di Malaysia, “Seberapa besar mereka mengekang Islam, maka sebesar itu pulalah Islam akan tumbuh”. Maka data dikatakan bahwa kekhawatiran yang semula ditampakkan oleh umat Muslim semenjak terpilihnya Trump menjadi  presiden Amerika Serikat untuk empat tahun mendatang akan bertransformasi menjadi sebuah kekuatan yang besar dan terintegrasi dari seluruh umat Muslim di dunia.

Penulis: Rizky Mardiyah 

Bolak-balik Merombak Tim Sukses, Donald Trump Sukses Menjadi Presiden Terpilih Amerika


Gardamedia.org- Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa lalu (08/11) memang mengundang banyak kontroversi. Salah satunya demonstrasi di berbagai kota di Amerika Serikat yang terus berlanjut untuk menentang kemenangan Donald Trump. Warga turun ke jalan-jalan di kota-kota besar, termasuk di New York, Los Angeles, Philadelphia, Denver, San Fransisco, Baltimore, Boston,  Portland, dan Minneapolis. Rata-rata dari para demonstran itu tidak lain adalah anak-anak muda yang berpendapat bahwa kepemimpinan Trump akan menimbulkan jurang perbedaan perbedaan atas dasar ras dan jenis kelamin, dilansir dari BBC.

Namun kemenangan Trump ini tidak lain juga merupakan kerja keras tim sukses yang ada di belakangnya. Seperti film “ The Ides Of March” yang mengingatkan kita tentang kerja keras tim sukses (Stephen Meyers) dalam memenangkan gubernur dan calon presiden (Mike Morris). Di mana Mike Morris ini bersaing ketat dengan Ted Pullman untuk menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat. Kedua tim sukses mengerahkan taktik dan strategi untuk memenangkan kompetisi termasuk memecah−belah tim lawan.

Sama halnya dengan Mike Morris di film The Ides Of March, Donald Trump pun memiliki orang-orang intelek yang merupakan tim sukses kampanyenya. Sebelumnya presiden Amerika Serikat dari Partai Republik ini, Donald Trump, melakukan perombakan susunan tim sukses kampanyenya dengan mengangkat Stephen Bannon sebagai Kepala Eksekutif kampanyenya dan mempromosikan Kellyanne Conway sebagai Manager Kampanye. Langkah ini ditujukan setelah hasil jajak pendapat dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan dukungan responden terhadap Presiden Amerika Serikat ini menurun.

Presiden Amerika ini nekat memilih orang-orang baru dalam tim kampanyenya saat tinggal 82 hari (17/8) menuju pemilu presiden AS yakni 8 November lalu. Ia mengambil Bannon dan Conway sebagai tim kampanye barunya dengan harapan bisa membantunya mengalahkan Hillary Clinton, calon Presiden AS dari Partai Demokrat.

Sebelumnya pada Juni lalu Paul Manafort ditunjuk Presiden AS, Donald Trump sebagai ketua tim suksesnya menggantikan Corey Lewandowsky. Namun pada Jumat (19/08) lalu, Paul Manafort menyatakan pengunduran diri di bawah bayang-bayang investigasi korupsi Ukraina. Manafort yang dikenal sebagai ahli strategi yang pernah menjadi penasihat sejumlah kandidat presiden hingga ke masa Gerald Ford ini menyusul pekan-pekan berisi laporan media terkait krisis terhadap presiden AS. Peran Manafort dalam kampanye Trump terpinggirkan pada awal pekan kehadiran Kepala Eksekutif (Stephen Bannon) serta manajer kampanye (Kellyanne Conway). 

Pengunduran diri Manafort ini merupakan pukulan telak bagi Presiden AS, Donald Trump, yang tengah sibuk menghadapi pertarungan dengan Hillary Clinton untuk menjadi penguasa Gedung Putih saat itu. Namun sepertinya Donald Trump tidak terlalu menghiraukan atas hengkangnya Manafort sebagai ketua tim suksesnya dan terus melanjutkan perjuangan perebutan Gedung Putih. 

Meskipun sempat terpukul akibat kepergian Manafort, Trump dapat membuktikan bahwa ia pantas memenangkan pemilu presiden AS. Dalam pemilihan yang berlangsung Selasa (8/11) kemarin, Trump mendapatkan 276 suara pemilu (electoral votes). Hasil itu membawanya ke Gedung Putih, yang akan ditempatinya pada 20 Januari 2017 mendatang. 

Sejumlah kontroversi mengapa Trump menang bermunculan paska tidak menerima kemenangan Trump. Padahal sebelumnya tim sukses Donald Trump menyebutkan bahwa kandidat presiden dari Partai Republik ini tertinggal dari saingannya Hillary Clinton. 

Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil sejumlah jajak pendapat pada minggu (23/10) silam yang memperlihatkan keunggulan Clinton atas Trump di negara-negara bagian. 

“Kami berada di belakang. Dia memiliki sejumlah keunggulan,” kata manajer tim kampanye Trump, Kellyanne Conway. 
“Kami tidak menyerah. Kami mengetahui bahwa kami dapat memenangi ini,” tambahnya seperti diwartakan BBC. 

Bahkan pada Jumat (21/10), Trump sempat menyampaikan pendapatnya terkait pemilu nantinya yang menyatakan dia mungkin kalah.

Namun Donald Trump membalikkan semua analisis dan kembali sebagai pemenang. Dalam pidato kemenangannya pada Rabu (09/11), presiden terpilih Donald Trump menyerukan kepada rakyat AS untuk bersatu padu. Dia juga berjanji untuk menjadi presiden bagi seluruh rakyat Amerika setelah dalam masa kampanyenya mengecam umat Muslim, masyarakat Amerika Latin dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Saya berikrar kepada setiap warga dari tanah air kita bahwa saya akan menjadi presiden bagi setiap orang Amerika. Dan itu sangat penting bagi saya.”

Menurut manajer kampanye Trump, Kellyanne Conwey, presiden terpilih sudah mengadakan ‘pembicaraan hangat’ dengan Hillary Clinton calon presiden dari Partai Demokrat dan ‘percakapan hangat’ dengan Presiden Barrack Obama. 

Dalam pidatonya, Trump juga menyebutkan bahwa di antara prioritasnya setelah menjabat presiden nanti adalah memperbaiki infrastruktur yang hancur dan melipatgandakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Sebelum berpindah ke Gedung Putih pada 20 Januari 2017, terdapat masa transisi selama 10 minggu dan Trump menunjuk Chris Christie sebagai ketua tim transisi. Christi sendiri adalah seorang gubernur New Jersey dari partai republik.

Kemudian diketahui bahwa pada Senin, (14/112016), Trump mengumumkan Reince Priebus untuk menjadi Kepala Staf Gedung Putih. Priebus adalah Ketua Komite Nasional Partai Republik dan penasihat setia kampanye Trump, seperti dilansir oleh The New York Times.

The Wallstreet Journal menulis, terpilihnya Priebus tidak lebih dari upaya Trump untuk melakukan pendekatan konvensional setelah ia “memberontak” semasa berkampanye. Priebus dinilai sebagai sosok politikus matang yang dapat menjembatani hubungan Trump dengan Ketua DPR, Paul Ryan, yang meski tidak berseteru, tetapi juga tidak bisa dikatakan harmonis.

Presiden terpilih AS itu juga menunjuk Stephen Bannon menjadi kepala strategi dan penasihat seniornya yang sebelumnya menjabat menjadi kepala eksekutif kampanyenya. Sebelumnya posisi kepala strategi dan penasihat senior Trump diduduki oleh Paul Manafort yang memilih hengkang Agustus lalu. 

Penulis: 

Jumat, 04 November 2016

Upaya Membela Islam, Ribuan Masyarakat Kota Medan Turun Jalan Tuntut Ahok Diadili


Peserta aksi berkumpul di Masjid Agung sebelum melakukan pawai
menuju Mapolda Sumut (4/11)

Gardamedia.org- Beredarnya rekaman video penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) beberapa waktu yang lalu sontak membuat hati umat muslim di seluruh Indonesia tersakiti. Rekaman yang terjadi pada hari Selasa, 27 September 2016 di Kabupaten Kepulauan Seribu berbuntut panjang hingga hari ini. Dalam rekaman tersebut Ahok mengutip surat Al-Maidah ayat 51 yang berbunyi tentang larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.

Beredar luasnya rekaman video tersebut menuai banyak tanggapan dari umat muslim di seluruh Indonesia. Mereka menuntut agar peleceh agama harus diadili sesuai dengan UU. Akhirnya muncullah gerakan “Aksi Bela Islam” di berbagai daerah di seluruh Indonesia sebagai bentuk tuntutan agar pihak penegak hukum segera mengadili Ahok.

Di kota Medan, 4 November 2016 merupakan kali ketiga Aksi Bela Islam digelar setelah 14 dan 28 Oktober lalu. Para peserta aksi berangkat usai menunaikan sholat Jumat di masjid Agung Medan. Dalam aksi ini para peserta melakukan pawai bermotor yang dimulai dari masjid Agung dan berakhir di Mapolda Sumatera Utara. Pawai kali ini diikuti oleh ribuan umat muslim yang  berasal dari berbagai kalangan di kota Medan dan sekitarnya. Sekitar pukul 15.20 WIB, peserta aksi sudah memadati Mapolda Sumut di Jl. Sisingamangaraja.  

Beberapa elemen masyarakat yang tergabung dalam aksi ini diantaranya KAMMI Medan, HMI Medan, FPI Sumut, HTI Sumut, HTI Deli Serdang, PII (Pemuda Islam Indonesia), FUI (Forum Umat Islam) Sumut, Kahmi Deli Serdang, Muhammadiyah Deli Serdang, dan beberapa ormas lainnya. Semua ormas yang tergabung dalam aksi ini membawa beberapa tuntutan, antara lain mendukung Fatwa MUI tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok dan meminta agar pihak kepolisian segera mengadili Ahok sesuai dengan UU. Semua perwakilan ormas tersebut juga melakukan orasi secara bergilir dari atas mobil truk terbuka sembari menunggu hasil aksi bela islam di Jakarta.

Sekitar pukul 16.30, Kapoldasu Irjen Pol H. Rycko Amelza Dahniel mendatangi peserta aksi untuk menyampaikan tanggapannya. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh peserta aksi karena tetap menjaga ketertiban dan keamanan. Beliau juga mengungkapkan bahwa Bareskrim Mabes Polri saat ini sedang memproses laporan tentang Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Beliau juga meminta kepada seluruh peserta aksi untuk terus memberikan dukungan moral kepada Polri agar bisa bekerja dengan baik mengusut apa yang menjadi tuntutan umat muslim saat itu.

Menjelang pukul 18.00, Kordinator aksi Ustadz Zulkarnain naik ke atas mobil truk untuk menyampaikan hasil rapat antara seluruh pimpinan ormas di masjid Mapolda. Beliau mengatakan hingga waktu menunjukkan pukul 18.00 belum ada kepastian kabar yang diterima dari pusat Aksi Bela Islam di Jakarta. Oleh karena itu, dengan berat hati beliau meminta kepada seluruh peserta aksi untuk kembali ke tempat masing-masing dan harus siap sedia kapanpun Kordinator Aksi melakukan panggilan.

“Saudara-saudara sekalian, dengan berbagai masukan dan realitas yang bermacam-macam, dengan kebijaksanaan dan kearifan, dan dengan melihat situasi dan kondisi yang ada, maka tadi kita memutuskan untuk kembali ke tempat masing-masing menunggu langkah-langkah ataupun perubahan-perubahan yang mungkin tiap detik berubah di Jakarta.” ucap beliau, yang sontak disambut dengan teriakan peserta aksi sebagai ungkapan kekecewaan mereka.

Akhirnya sekitar pukul 18.30, peserta aksi membubarkan diri secara tertib dan tetap menunggu kabar selanjutnya selama 2-3 hari ke depan dengan melihat situasi dan kondisi yang terjadi di Jakarta.


Reporter Garda Media

Foto : Dhika Swandana 

Extraordinary DAI Camp (EXO DC) Bangkitkan Semangat Dakwah Kembali

  Extraordinary DAI Camp (EXO DC)  Bangkitkan Semangat Dakwah Kembali Penulis: Indah Sundari | Editor: Ilaysiara      Gardamedia.org-   Pad...