Header Ads

Dan Rasulullah Menuju Padanya

Gambar : Internet

Gardamedia.org - Sosok berwajah cahaya itu berjalan perlahan. Wajahnya bulat, bening, teduh dengan mata bersinar seakan menampilkan gemintang. Gemintang dambaan umat sepanjang zaman. Ya Rasulullah, salawat dan salam tercurah padamu, ya thala'al badru.

Hanya rasa tak percaya berkecamuk di pikiranku, mungkin juga pikiran orang-orang di sekelilingku saat diumumkan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri Rasulullah. Benarkah ? Lalu kudengar senandung zikir disekitarku. Terus tak putus-putus.

Sosok itu terus berjalan dengan postur tegap, senyum tak henti menghiasi wajah langitnya. Semua orang disekeliling, juga aku, berusaha menggapai sinar matanya. Berusaha menyalami beliau. Namun Rasulullah terus berjalan seakan hanya menuju satu tujuan. Semua mata mengikuti nabi akhir zaman itu. Siapakah yang dituju Rasul tercinta ? Siapakah orang beruntung itu ? Siapakah ?

Kemudian Rasul berhenti di depan orang itu, tersenyum dengan mata penuh cinta, menyalami dan menepuk bahunya. Semua yang ada kembali mendengungkan zikir. Penuh syukur dan takjub.

Lalu aku pun tersentak! Tanganku bergetar ketika dinihari itu aku terbangun dari tidur dan mengingat mimpi yang baru saja aku alami. Kubangunkan suamiku dan kuceritakan mimpi itu. Suamiku menangis terharu. Ia memelukku, kemudian kami berdua sujud syukur dan shalat malam.

Jujur ku akui, aku bukanlah ahli ibadah yang dapat tenggelam bermunajat dalam khusyu. Aku masih harus banyak didorong dan dimotivasi baik oleh teman-teman maupun suami untuk meningkatkan amalan-amalan sunnah. Pun ketika siang hari sebelum aku bermimpi itu, kau berpuasa ayamul bidh, sebuah program menghidupkan ibadah sunnah dalam keluargaku.

Ah, mimpi itu. Ras atak percaya sesaat memenuhi relung hatiku. Tetapi kebahagiaan sejuk merembesi dadaku. Benarkah? Rasanya tak pantas aku melihat senyum Rasulullah dalam mimpi tersebut. Rasanya tak pantas aku bisa melihat sosok al-Amin itu, meski hanya dalam mimpi. Bukankah hanya mereka yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang mendapat rezeki semulia ini? Seperti Zainab al-Ghazali, seorang aktifis wanita pergerakan Islam di Mesir yang tertangkap dan dipenjarakan rezim Gamal Abdul Naser karena berdakwah. Beliau adalah pejuang Islam yang telah mempersembahkan dirinya untuk Islam. Pada suatu malam dalam penjara yang dingin beliau bermimpi berjumpa Rasulullah SAW.

Aku? Belum ada yang bisa kupersembahkan untuk Islam. Hidupku masih disibuki dengan urusan keduniaan dan kepentingan-kepentingan jangka pendek. Sungguh aku tak sanggup menceritakan mimpi ini. Tetapi aku yakin akan kebaikan Allah, dan senantiasa berharap semoga Allah berkenan menerima amalku yang masih sedikit agar mampu bangkit dan terus memperbaiki diri.

Sedangkan orang yang disalami Rasulullah dalam mimpi itu... Siapakah dia? Persentuhanku dengan orang itu hanya beberapa kali saja. Aku lebih banyak mendengar dari orang lain mengenai kebaikan-kebaikan beliau. Seorang ustadz yang ramah dan jenaka, memiliki integritas yang baik, dan sering kali membuat orang menangis saat mendengar nasehatnya.

Satu hal yang juga selalu diingat banyak orang adalah kebiasaan beliau bersedekah setiap hari. Tak ada hari dilewati beliau tanpa berdakwah di jalan-Nya. Sampai kemudian kanker hati mulai menggerogoti tubuhnya. Terus menggerogoti, hingga beliau harus menjalani beberapa kali operasi. Namun, seperti yang kudengar dari orang-orang, kesabaran selalu menghiasi hari-hari beliau meski sakit mendera. Bahkan sedekah terus beliau lakukan meski sedang sakit.

Kurang lebih dua minggu setelah mimpi itu aku mendengar kabar beliau wafat. Dari kabar itu pula aku mendengar bahwa begitu banyak pelayat yang datang ke rumah beliau. Bahkan salat jenazah pun sampai dilakukan beberapa tahap karena mesjid  tak mampu menampung mereka yang ingin menyalatkan beliau. Ah, kemudian kau sadar. Allahu a'lam. Mimipiku itu mungkin perantara bahwa Rasulullah mencintai sosok itu. Dan Allah memang lebih sayang pada hamba-Nya yang terbaik, dan mengambil kembali beliau kesisi-Nya. Ya, beliau seorang kader dari salah satu partai di negeri ini.

Beliaulah, yang sebelum ruh lepas dari raga, memberikan tiga wasiat bagi orang di sekelilingnya: tingkatkan hubungan silaturrahmi, konsisiten di jalan lurus, dan pergauli serta perbaiki masyarakat agar menjadi lebih baik. Beliau yang ada dalam mimpiku, yang disalami serta dirangkul oleh Rasulullah itu adalah Ustadz Ahmad Madani.


Kisah ini dikutip dari salah satu buku karya Helvy Tiana Rosa dkk berjudul "Bukan di Negeri Dongeng". 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.