Cerpen : Istana Yang Paling Berharga - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Cerpen : Istana Yang Paling Berharga

Share This
Gambar ilustrasi : Internet

Seorang ibu muda sedang menggoreng tiga butir telor yang paling kecil, yang bisa dibelinya di pasar. Seorang anak kecil yang lumayan lebih besar dari adiknya, sibuk bermain dengan dunianya sendiri. Terkadang berjalan kesana-kemari dibelakang rumahnya itu, sambil menggurutu sendiri. Persis seperti caleg yang gagal di pileg. Bagaimana tidak? Dia stres, hanya tinggal berempat di rumah gubuk yang disewakan perbulan itu. Tidak punya teman bermain! kalaupun ada ialah tetangga-tetangga raksasa baginya, orang-orang Medan yang pergi pagi pulang malam, demi tetap gajian pada tanggal 1 setiap bulannya.
Sang ibu masih saja menggoreng telor-telor tersebut, menyulapnya menjadi dadar. Agar semua komponen keluarga kebagian. Sang ibu tidak terlalu khawatir dengan si sulung yang diluar, sebab si ibu tahu si sulung anak yang baik. Lain lagi dengan si bungsu yang terus digendong. Ia seperti tidak tahu kesusahan yang dialami ibunya, ia malah menambah kesusahan itu dengan rengekan tangisnya. Yang entah minta apa?

Si suami yang telah merebut hati si ibu, pulang dari pekerjaannya. Ia tampak sangat lelah, kucuran keringat tak berhenti menetes dari dahinya yang keriput. Membasahi umurnya yang sudah mulai tua. Tua karena harga, karena ekonomi, karena semua. Si ibu tak sempat menyapa kedatangan suaminya. Tidak seperti orang kota yang tersungging senyum, si ibu sibuk membagikan nasi ke piring-piring. Waktu makan siang versi mereka telah tiba.

Si sulung dipanggil kedalam oleh ibunya. Cepat-cepat si sulung berlari masuk kedalam dan berkumpul, tak lupa ia kecup jari-jemari kasar ayahnya. Ayahnya menahan tangis, menahan pilu. Seorang ayah haram untuk menangis! Ia harus terus-menerus menampakkan ketegaran. Si sulung seharusnya sudah kelas 2 sekolah dasar. Ayahnya malu. Malu pada anaknya, malu pada janjinya kepada si istri untuk membesarkan anak mereka dengan layak.

Sambil mengunyah nasi, si ibu yang berhati keibuan itu tak mampu lagi membendung air mata. Ia menangis sesenggukkan. Sang suami hanya terdiam dan hanya tertunduk malu. Si ibu ingat perjuangan suaminya untuk mendapatkan hatinya, bahkan dari calon tunangannya yang lebih mapan dari si bapak. Sedangkan si sulung mulai sok berpikiran dewasa. Ia berpikir bahwa ibunya bahagia; memiliki suami yang terus berusaha menghidupinya bermodal berdagang kerupuk, suaminya yang setia, dan anak-anak yang tahu diri kecuali si kecil yang belum balig. Baginya keluarga ini terasa bahagia, sejahtera dan...berharga.

Karya : Goebahan. K

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages