TERTIPU CUACA - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

TERTIPU CUACA

Share This
Ilustrasi diambil dari www.voaindonesia.com
    Namaku Kaka, sekarang aku sedang memandangi langit sore yang menampilkan senja. Namun tak seindah senja sebelumnya. Sudah beberapa hari belakangan ini aku memandang langit yang berbeda dari atap rumah kami. Aku dan keluargaku tinggal di perumahan dosen Universitas Sumatera Utara. Ayahku bekerja sebagai staf pengajar di USU, mata kuliah yang diajarkan beliau adalah Ilmu Politik. Ibu adalah seorang Ibu rumah tangga yang penuh tanggung jawab kepada anak dan keluarganya. Sedangkan aku, aku baru saja memasuki bangku kuliah sekitar 2 bulan yang lalu. Aku duduk di departemen Ilmu Komunikasi, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sore itu setelah memandang langit yang kurang bersahabat aku langsung memasuki rumah dan berniat untuk segera membersihkan badanku yang kumal ini. Saat melintasi ruang TV menuju kamar mandi, aku dikejutkan mengenai berita kebakaran hutan yang tak sengaja aku dengar. Tapi apa pedulinya aku, aku melanjutkan langkah ku menuju kamar mandi. Dua puluh menit pun berlalu. Saat itu aku sudah berada di kamar bersiap-siap untuk sholat maghrib. Suara bising dari ponselku berdering keras, ternyata ada telfon dari Liza. Liza satu jurusan denganku di kampus.
    "Assalamualaikum, Ka..!"
    "Waalaikumsalam, Za. Ada apa? Ada yang bisa dibantu?" tanyaku pada Liza.
    "Oh bukan Ka, Liza cuma mau ngasih tau kalau besok ada tugas Ilmu Politik mengenai kaitan kebakaran hutan dengan sistem pemerintahan. Tadi dikasih tau sama komting, Ka".
    “What?? Ada tugas Ilmu Politik? Ayahku sendiri gak ada ngasih tau apa-apa sama aku, anaknya yang paling rajin ini. Hmmm, thanks ya Za buat infonya".
    "Oke ka! Assalamualaikum".
    Jawaban salamku pun mengakhiri percakapan kami pada waktu menjelang magrib itu. Seru azan yang syahdu menenangkan hatiku yang agak kesal kepada Ayah setelah mendapat info dari Liza mengenai tugas besok.
    Selesai sholat, seperti biasanya aku membaca beberapa ayat dalam surah Al-Quran. Kemudian bergegas ke ruang makan untuk makan malam bersama Ibu dan Ayah.
    Setelah makan aku melakukan tugas yang biasa aku lakukan, yaitu membereskan piring-piring kotor lalu aku beranjak menuju kamar dengan niat untuk menyelesaikan tugas malam ini. Sesampainya di kamar aku mulai mengutak-atik laptopku dan berusaha menemukan informasi mengenai kebakaran hutan yang sekarang ini terjadi. Tak lama kemudian aku pun menemukannya. Segera aku raih buku catatan yang ada di sebelahku dan mulai menuangkan kata demi kata dari fikiranku berdasarkan info yang aku dapat.
    "Kebakaran hutan kali ini terjadi di beberapa daerah di Indonesia, yaitu Riau, Jambi, dan yang terakhir di Kalimantan. Khususnya di Pekanbaru, Riau lahan yang terbakar sangatlah luas dan di dalamnya ada pepohonan serta tumbuhan gambut yang mudah terbakar. Unsur pembakaran hutan ini disimpulkan adalah unsur kesengajaan dan pelakunya adalah orang-orang besar yang memiliki lahan yang sangat luas dan harta yang banyak sehingga mampu mengatur kekuasaan dengan hartanya. Tidak mungkin pelakunya adalah tukang kebun biasa yang hanya memiliki beberapa hektare tanah untuk diurusnya. Baiklah masalah apa, siapa, dan mengapa ini terjadi biarlah menjadi urusan mereka dengan hati dan tuhan mereka saja, yang terpenting sekarang bagaimana meminimalisir asap hasil pembakaran yang sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, khususnya wilayah Sumatera.”
    “Pekanbaru meliburkan sekolah karena kandungan asap yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Lebih dari ratusan orang menderita gangguan penglihatan dan pernafasan atau disebut juga dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yang pada ujungnya juga akan berakhir ke paru-paru”.
   “Wilayah Medan dan  sekitarnya juga meliburkan sekolah-sekolah. Namun tidak dengan Universitas termasuk tempatku menggali ilmu, USU. Kami tidak libur, tetap pergi kuliah seperti biasanya namun kami menggunakan masker sebagai pelindung saluran pernafasan. Setiap hari kami bertemu dengan cuaca yang tidak bersahabat. Udara segar di pagi hari sudah tak pernah kami rasakan lagi. Untuk meminimalisir, kutemukan beberapa cara di media massa, seperti penyediaan air garam di sekitar rumah, dll. Namun itu saja tentu belum cukup, masyarakat Indonesia butuh penanggulangan besar dari pihak yang berwenang”.
    “Oleh karena itu, atas nama mahasiswa kami meminta pertanggung jawaban pemerintah yang berwenang untuk segera menyelesaikan problema ini. Karena asap tidak akan bisa habis walaupun sudah dihirup bersama-sama. Terima kasih!"
    Tugasku mengenai kebakaran hutan pun akhirnya selesai pada pukul 01:30. Hihihi..! Tugas yang sangat menyenangkan. Aku tak bisa menahan kantuk mata ini lagi dan kuputuskan untuk segera tidur. Namun sebelum tidur aku perlu merenungkan beberapa hal. Aku baru tahu jika udara yang selama ini kuhirup sudah tercemari asap yang tidak menyehatkan, khususnya daerah tempat tinggalku perumahan dosen USU. Satu hal lagi, banyaknya kejahatan di bumi ini bukan karena banyaknya orang jahat. Namun banyaknya orang baik yang hanya diam dan tutup mulut saja. Semoga aku lebih peka akan sekitarku dan lebih banyak melakukan hal-hal berguna. Hoaaammm..!

Penulis : Fadilah Syam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages