Header Ads

Sampai Kapan Reformasi Ini ?

Gambar Ilustasi


Gardamedia.org - 21 Mei 1998 silam, The Smilling General mengundurkan diri karena tekanan massa yang bermula dari krisis moneter berujung pada aksi demonstrasi yang turun ke jalan. Saat itu rakyat Indonesia merasakan atmosfer penanda akan terjadinya sebuah perubahan dengan bergulirnya reformasi Tetapi Soeharto mengatakan kepada orang terdekatnya ,"Sudah yakinkah kalian siap untuk berdemokrasi?". Ternyata apa yang dipikirkan pak Harto menjadi kenyataan, Indonesia tidak siap menjadi sebuah negara demokrasi, demokrasi yang terjadi justru demokrasi yang berlebihan dan seolah tanpa batas. Amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali justru menghasilkan sebuah Konstitusi tertulis tanpa Bab IV. Pembangunan sistem pemerintahan Hybrid dimana Indonesia memilih presiden dengan mengadakan pemilu yang diikuti oleh banyak parpol sehingga berimbas pada Political Cost yang juga tinggi.

Tuntutan reformasi tentang pencabutan Dwi Fungsi ABRI yang pada awalnya banyak pihak meragukan apakah bisa diwujudkan. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa ABRI merupakan pihak yang paling siap untuk mereformasikan dirinya. Seperti dengan menjatuhkan dirinya dari dunia politik praktis dan masih banyak lagi perubahan baik dalam tubuh ABRI itu sendiri dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang kebingungan mau diarahkan kemana negeri ini.

Reformasi justru mengancam integrasi NKRI pada waktu itu dengan adanya referendum TimTim, Konflik Aceh, Poso dan seterusnya. Suatu hal yang dapat diapresiasi adalah bahwa TNI berhasil menjaga NKRI walaupun ribuan prajurit harus mengorbankan jiwa raga demi negeri tercinta sesuai sumpah sapta marga mereka. Disini terlihat kembali kejeniusan pak Harto yang walaupun telah mangkat, ia berhasil menyiapkan regenerasi kepemimpinan militer yang selalu siap mempertahankan negaranya. Anak-anak didik Soeharto di TNI telah berhasil mencegah terjadinya ancaman Balkanisasi Indonesia yang diinginkan oleh pihak luar.

Sewaktu reformasi terjadi semua hal yang berbau kebijakan-kebijakan Soeharto yang pada awalnya bagus dihapus karena berbau aroma orde baru, seperti penghapusan GBHN, Pendidikan Moral Pancasila dan lain--lain. Seolah-olah semua kebijakan Soeharto itu salah semua tanpa satupun yang benar.

Reformasi akhirnya datang, tetapi bangsa Indonesia tidak mempunyai Blue Print lengkap dan terstruktur. Pada bidang mana yang akan di reformasi, bagaimana bentuknya nanti, kesalahannya dimana, dan solusi perbaikannya bagaimana. Semua hal seolah-olah digampangkan.

17 tahun reformasi telah bergulir, tetapi tidak ada pembangunan yang bersinar di sektor manapun. Hal ini jauh berbeda ketika 17 tahun orde baru dahulu yang justru sektor-sektor riil perindustrian dapat bergerak, pangan aman, dan keamanan terjamin. Hari ini 17 tahun reformasi belumlah terlihat, sebaliknya hasil reformasi tadi malah menuju pada ancaman disintegrasi yang semakin meluas.

Hal yang menjadi pertanyaan kita semua adalah, kapan dan berapa lama lagi Indonesia terus mereformasi dirinya ???


Penulis : Muhammad Zovi Kurniawan, mahasiswa S1 FH USU 2014.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.