Header Ads

Lelah Paru-Paru Adek, Bang!

Created by : Tina Aisyah
  
Asap menjadi kata yang popular belakangan ini, dan masker menjadi produk yang laris di pasaran. Kebakaran hutan menjadi masalah yang tak kinjung selesai, yang entah kenapa lagi tak bisa dicari akar penyelesaian masalahnya. Dari yang entah sejak kapan bermulai pun kita sudah lupa mengingat akibat sudah lamanya masalah ini tak kunjung menemui titik akhir penyelesaian. Tentu saja ada oknum yang bermain di dalamnya, perbedaan kepentingan dan penyalahgunaan kekuasaan yang tidak milik siapa. Semua aktivitas terganggu, dari mulai bangun hingga tidur lagi. Headline berita terus menyoroti kasus ini, seluruh masyarakat berkomentar, tidak tahu benar-benar perduli atau hanya ikut-ikutan, biar terlihat peduli (katanya), meme komik bermunculan, tagline berhadiran, ide kreatif penciptaan slogan maupun kata-kata sindiran tak mau ketinggalan. Semua bergerak.
    Pekanbaru lumpuh, udara Riau berbahaya, kekacauan terjadi Batam, kualitas udara Palangkaraya apalagi, dan akhirnya Medan terkena dampaknya. Tiupan angin akhirnya membawa sebagian asap kebakaran lahan yang entah siapa dan bagaimana caranya bisa terbakar ke tanah Deli. Mau tidak mau, langit Medan harus juga merasakan dampak dari permasalahan yang tak kunjung selesai itu. Semakin hari asap yang terlihat semakin pekat, pandangan tak lagi jelas, udara tak lagi sehat, mata perih ketika melihat, bandara ditutup, penerbangan dibatalkan, sekolah diliburkan, Medan terhenti karena asap. Hujan yang turun tak dapat berbuat banyak untuk mengalahkan asap yang ternyata memiliki kekuatan kawanan yang lebih besar. Hal ini semakin membuat masyarakat mengira bahwa pemerintah tak serius dalam mengatasi masalah tersebut hingga terus meluas. Pemerintah dituduh tidak bertanggungjawab, pemerintah dianggap tak peduli. Negara dianggap tak ada lagi, dan kita? Mau mengadu pada siapa?
    Masyarakat tersadar, mahasiswa turun kejalan, berorasi, menggalang dana peduli. Namun masih tak dapat mengobati luka hati, kita harus berbuat apalagi? Asap hanya terus semakin menyelimuti raung-ruang pinggiran kota Medan. Dan kita cuma hanya bisa berkeluh dan berharap tersadarnya orang-orang yang mempunyai kuasa diatas sana untuk meminggirkan kepentingannya.
    Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus seperti ini? siapa yang bersalah dan haruskah kita yang menderita? Kalau begini terus lelah paru-paru adek, Bang!

Penulis : Nanda Rizka

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.