Confession - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Confession

Share This
Ilustrasi: www.islampos.com

Mereka meninggalkanku. .
Kembali pikiran itu terlintas, yang langsung saja membuatku frustasi lagi. Lagi, entah yang sudah ke berapa dalam bulan ini. Mereka berubah, aku tahu. Dan perubahan itu membuatku sakit hati.
Aku melihat sebuah pigura masih berdiri tegak di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Segera ku ambil dan menjatuhkannya dengan sengaja ke lantai.
“Sok suci, kalian semua! Munafik!” umpatku. Aku benar-benar kesal. Aku berteriak sekuat tenaga, menendang segala barang yang ada di sana. Aku benar-benar kalap, tidak peduli pada kaki dan tanganku yang sudah berdarah, pun pada kepalaku yang berdenyut makin keras. Lalu aku menatap langit-langit, dan teringat akan satu hal. Akhir-akhir ini Tuhan tidak pernah berbicara padaku. Apa karena itu, aku kini berantakan? Ku pikir Ia sedang tertidur di atas lemari, dan segera saja ku panjati kursi, lalu ke atas meja, melongokkan kepala ke atas sini, tapi kosong. Tuhan sudah pergi bersama dengan mereka, yang sudah menyakitiku! Kesal, aku menendang lemari dan langsung terhuyung  jatuh.
Sebuah suara terdengar, tertawa mengejek. Aku tidak kenal suara ini. Di mana suaranya? Berhenti mengejekku! Aku memaksa berdiri, terpincang-pincang berlari ke setiap sudut kamar, mencari tahu. tapi tidak ketemu, bahkan kini suara itu berubah jadi makin terbahak, menertawakan aku yang sudah ditinggal Tuhan. Sialan! Aku menarik keras-keras sprei, dan gorden, tetap saja tidak kelihatan.
“Pengecut! Tunjukkan dirimu!” aku berteriak. Tapi yang aku lihat kemudian bukan orang, atau hewan. Tapi lampu ruangan yang berputar sangat kencang di depan mataku. Suara itu makin keras, dan kelap kelip lampu itu menambah pusing di kepala. “Sudah, berhenti!” aku mulai terisak. Memegangi kepalaku. Mencengkeram rambutku keras-keras. Aku menangis, dan jatuh terduduk. Tapi suara itu menelan kesadaranku. Kini cahaya lampu itu tidak lagi kelihatan. Semuanya gelap…



**********

Aku tahu kalian hanya masa lalu, dan aku tahu aku sudah kehilangan masa lalu itu.
“Lihat, cantik kan?” suara Bu’e segera terdengar saat jarum terakhir sudah disematkan di jilbabku. Aku memandang cermin. Benar, cantik. Aku bahkan tidak sadar, kalau orang yang di dalam cermin itu adalah aku.
Alhamdulillah, kamu sudah mau berubah. Bu’e senang sekali.” Ujar Bu’e lagi. Ia mengelus kepalaku dengan sayang, lalu merapikan selendangnya dan segera beranjak pergi. Aku masih bergeming di tempat, menerka-nerka sampai kapan aku berpakaian seperti ini. Sehari? Dua hari? Seminggu? Aku lalu menghela napas.
“Mungkin selamanya.” Pikiranku berbicara. Aku mengangguk, seakan mengiyakan kalimat itu. Mungkin selamanya, ya, se-la-ma-nya. Ia akan tetap pada hijrahnya. Aku memandang langit-langit kamar, membayangkan Tuhan sedang tersenyum. Tapi tak urung juga  menerka, apakah Tuhan memang bisa tersenyum, atau bahkan Ia tidak pernah tersenyum. Pikiranku teralihkan saat seorang berpakaian putih-putih memasuki kamar. Ia membawa nampan berisi segelas air putih dan beberapa bungkus obat.
“Waktunya minum obat.” Suster itu berkata riang. Aku turut tersenyum, dan segera meraih gelas. Ia membantuku membukakan bungkus obatnya.
“Kamu sedang memikirkan apa?” Tanya suster itu membuka pembicaraan. Aku menggeleng cepat-cepat. Itu rahasia, pikirku. Aku ingin menyimpannya sendiri.
“Hati-hati loh, jangan mikir yang aneh-aneh lagi.” Ia menasihati sambil tersenyum.
.“Gak kok, gak yang aneh-aneh. Hanya…” aku berhenti berbicara. Bingung harus melanjutkan yang bagaimana.
“Hanya apa?”
“Suster, kapan aku boleh pulang?” aku mencoba mengalihkan perhatiannya. Barusan ia mengatakan aku tidak boleh memikirkan yang aneh-aneh.
Suster itu terdiam. Aku menunduk, merasa lebih tertarik pada gelas yang ku pegang daripada melihat suster ini. Apa ia tahu aku berbohong?
“Kamu ingin pulang?” tanyanya kemudian. Aku menghela napas lega, suster itu tidak curiga, serta merta mengangguk semangat.
“Nanti ya, kalau teman-teman kamu datang menjemput kamu. Tidak lama kok, asal kamu teratur minum obatnya.” Suster itu segera menyerahkan obat itu padaku, lalu keluar. Kalau teman-teman kamu datang menjemput. Aku tertegun, seketika menoleh pada sebuah pigura yang ada di atas meja. Ada wajah tiga orang di sana. Semuanya tertawa bahagia. Pelan, aku mengambil pigura itu, memandang lekat-lekat tiap wajah. Siapa mereka? Teman-temanku? Di mana mereka sekarang? Aku bertanya. Pandanganku kini kosong. Pikiranku mengembara ke ingatan masa lalu yang menjelma seperti potongan-potongan film pendek. 
Prak!
Pigura itu terjatuh tanpa ku sengaja. Aku menunduk, melihat ketiga wajah  yang kini dilapisi kaca retak di luarnya. Aku terus memandang kaca retak itu, mencoba bertanya, apakah tiga wajah di sana sama seperti kaca ini.


**********


Cinta itu ada saat ke’abnormalan’mu diterima oleh orang-orang disekitarmu.
Aku tertawa saat menulis kalimat itu di esaiku. Terbayang olehku beberapa wajah. Ada si enerjik, ada si kalem. Mereka normal, tapi menjadi abnormal beberapa kali. Aku ingat, saat mengelilingi toko pakaian, kami mengambil semua baju yang kami sukai, meletakkannya di meja kasir, membiarkan si petugas kelimpungan menghitungnya,  dan segera pergi tanpa membawa ataupun membayarnya. Disitu kami tertawa. Aku juga ingat saat kami mampir ke toko roti, kami mencoba segala macam kue, terang-terangan, tanpa berniat membayar. Saat kue terakhir sudah memenuhi mulut, kami segera pergi tanpa memerdulikan si pemilik toko. Di situ juga kami tertawa.
Oh, saat kami main petak umpet di toko lemari! Aku terkekeh. Kami berlarian sepanjang toko, menghilang dari pandangan orang dewasa, dan menyelinap ke dalam beberapa lemari. Kami bertiga bersembunyi, tidak tahu siapa yang akan menemukan, dan akhirnya menyerah saat masing-masing perut sudah berbunyi lapar. Kami tidak dimarahi –lebih tepatnya tidak perduli-.
Ya, itu lah kami. Keabnormalanku ku tularkan pada mereka. Kami sadar, sejak pertama kali bertemu, kami sudah cocok. Seperti kata orang soulmate. Waktu itu tidak ada yang memisahkan kami. Tidak ada yang dapat.
Hingga suatu ketika, kami terlelap di suatu ruangan, dan saat terbangun, aku sudah sendiri.
Apakah mereka meninggalkan aku?
Atau…
Aku yang meninggalkan mereka?

**********

Salah satu kesalahan terbesarku  adalah aku mengaku mengenal kalian, tapi ternyata aku tidak tahu apa-apa.
Aku menekan tombol backspace untuk menghapus ketikan itu. keningku berkerut samar, merasa heran. Entahlah. Sepertinya kemarin aku menganggap kalimat ini cocok sebagai pembuka tulisanku. Tapi sekarang aku ragu, merasa tidak enak, entah karena apa dan siapa.
Aku melepaskan kacamata, dan meletakkannya di atas meja. Sambil mengurut kening, zona ingatanku sudah mengembara di saat beberapa minggu lalu, saat pertama kali aku bertemu mereka.
Aku bukan siapa-siapa. Hanya seorang mahasiswa psikolog yang sedang frustasi mencari contoh pasien bipolar disosder di lingkunganku. Bagaimana mencari seorang bipolar di antara ribuan orang yang berlalu lalang setiap hari? Aku tidak mungkin berdiri di pinggir jalan dan menanyai orang-orang itu satu persatu, “maaf, saya sedang mencari pasien bipolar, apakah anda kenal seseorang?” atau yang seperti ini “maaf, apakah anda seorang bipolar? Tolong bantu saya untuk mengerjakan skripsi.”  Haha. Tidak mungkin, kan? Aku masih cukup waras untuk tidak melakukan itu. Aku kembali menyeruput minumanku yang sudah tinggal setengah, sambil memerhatikan keadaan sekitar. Tidak ada yang aneh, pikirku. Tidak lama, aku kembali tenggelam dalam lamunan memikirkan cara mendapatkan pasien. Tiba-tiba. …
“Satu! Dua! Tiga! Ayoo!” seruan itu terdengar dari sudut cafĂ©. Aku mengangkat wajah dan menyaksikan tiga gadis melompati meja yang tersusun untuk pelanggan. Mereka melompatinya! Tanpa terjatuh, tersangkut, atau terkena mejanya! Keren!
Tapi … Itu tidak wajar untuk gadis seanggun mereka. Bahkan untuk semua orang! Hello, siapa orang normal yang repot-repot mempermalukan diri dengan melompati meja di depan umum? Oh, ya, benar. Mereka. Kecuali kalau mereka tidak normal. Seperti tidak cukup, kini mereka duduk di atas meja. Di atas meja! Astaga! Aku akui, mereka sungguh manis, melihat cara berpakaian mereka yang cerah –aku membandingkannya dengan pakaian kumal ku yang serba hitam-, tapi tingkah laku mereka sungguh ekstrim. Terlalu bersemangat. pikiranku kembali terarah pada skripsi, pada pasien bipolar. Lalu, segera saja aku ingin tersenyum.
Saat mereka akan keluar, aku buru-buru menghabiskan minumanku yang tinggal sedikit dan cepat-cepat mengejar mereka. ***SELESAI***



Penulis : Netty Handayani



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages