Kamis, 30 April 2015

Ingin Melihat Bidadari di Surga

Oleh : Ayu Indah Lestari 






Dia beriman, berbaiat dan berhijrah. Dia berikan kebaikan untuk Allah dan Rasul-Nya dalam keislamannya, hingga dia beroleh janji, “Barangsiapa yang ingin melihat seorang bidadari, maka lihatlah wanita ini.”

Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin Abdi Syams bin ‘Itab bin Udzainah bin Sabi’ bin Duhman bin Al-Harits bin Ghanm bin Malik bin Kinanah Al-Kinaniyah radhiyallahu ‘anha1 adalah istri orang terbaik umat ini setelah Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Sebelum datang masa Islam, Ummu Ruman adalah istri ‘Abdullah bin Al-Harits bin Sakhbarah bin Jurtsumatil Khair bin ‘Adiyah bin Murrah Al-Azdi. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaruniakan pada mereka seorang anak bernama Ath-Thufail. Mereka tinggal di As-Surah. Selang beberapa waktu, Abdullah membawa istrinya ke Makkah untuk tinggal di sana. Sebagaimana kebiasaan kala itu, para pendatang bersekutu dengan para pembesar Makkah yang dapat melindunginya. Begitu pun ‘Abdullah bin Al-Harits. Dia bersekutu dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Namun Ummu Ruman harus bertemu dengan kenyataan, Abdullah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sepeninggal Abdullah bin Al-Harits, Abu Bakr radhiyallahu 'anhu datang meminangnya dan membawa Ummu Ruman dalam kehidupan rumah tangganya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahi pasangan ini Abdurrahman dan ‘Aisyah. Hari terus bergulir, hingga cahaya Islam merekah di kota Makkah. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah orang pertama yang membenarkan risalah. Tak ketinggalan Ummu Ruman menyatakan keimanannya dan turut berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keluarga yang sarat barakah. Ketika putri mereka, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berumur enam tahun, datang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminang ‘Aisyah. Jadilah putri Ummu Ruman ini seorang wanita yang penuh kemuliaan sebagai Ummul Mukminin. 

Namun saat itu, ‘Aisyah masih tetap berada dalam asuhan ayah ibunya, dalam keluarga yang penuh kebaikan, hingga saatnya turun perintah hijrah. Ketika itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu lebih dulu berangkat hijrah, sementara Ummu Ruman beserta keluarga Abu Bakr masih tinggal di Makkah. Barulah setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap beberapa saat di Madinah, beliau mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ radhiyallahu 'anhuma untuk menjemput keluarga beliau, berbekal 500 dirham dan dua ekor unta. Abu Bakr juga mengutus Abdullah bin ‘Uraiqith dengan membawa dua atau tiga ekor unta, dan menulis surat kepada putranya, Abdullah bin Abi Bakr, untuk membawa Ummu Ruman beserta ‘Aisyah dan Asma`. Mereka pun bertolak menuju Madinah bersama-sama. Saat itu, Zaid dan Abu Rafi’ membawa Fathimah, Ummu Kultsum, dan Saudah bintu Zam’ah. Zaid juga menjemput istri dan anaknya, Ummu Aiman dan Usamah bin Zaid.

Setiba di Madinah, keluarga Abu Bakr tinggal beberapa lama di kampung Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Suatu hari, ‘Aisyah yang kala itu berusia sembilan tahun tengah menikmati permainan bersama teman-teman sepermainannya. Tiba-tiba Ummu Ruman datang memanggilnya. ‘Aisyah segera datang tanpa mengetahui apa maksud ibunya memanggilnya. Ummu Ruman menggamit tangan ‘Aisyah yang masih terengah-engah itu ke depan pintu rumah. Diambilnya sedikit air, diusapnya wajah dan kepala putrinya, lalu diajaknya ‘Aisyah masuk. Ternyata di sana telah berkumpul para wanita Anshar. Mereka menyambut ‘Aisyah dengan doa keberkahan. Ummu Ruman menyerahkan ‘Aisyah pada mereka yang dengan segera mendandani ‘Aisyah. Ternyata hari itu adalah hari istimewa, saat bertemunya putri Ummu Ruman dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, suaminya.Ummu Ruman tetap mengiringi kehidupan putrinya. Bahkan juga ketika tersebar berita dusta tentang ‘Aisyah yang mengguncang rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepulang beliau dari peperangan Bani Al-Mushthaliq. ‘Aisyah yang turut dalam perjalanan itu, semenjak kepulangannya jatuh sakit sampai sebulan lamanya hingga tak mengetahui isu yang beredar menyangkut dirinya. Dia hanya merasa janggal dengan sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang begitu dingin. Dia tak merasakan sentuhan kelembutan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang biasa beliau lakukan bila ‘Aisyah sedang sakit. Namun akhirnya, sampai pulalah kabar itu ke telinga ‘Aisyah dari Ummu Mishthah. Bertambah parahlah sakit ‘Aisyah.Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya, ‘Aisyah pun meminta izin untuk tinggal sementara waktu bersama orang tuanya. Dia ingin mencari kepastian tentang berita yang tersebar itu dari mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya. Di hadapan ibunya, ‘Aisyah bertanya, “Wahai ibu, apa sebenarnya yang sedang dibicarakan orang-orang?” Dengan hati yang tak kalah sedihnya, Ummu Ruman menenangkan ‘Aisyah, “Tenanglah, duhai putriku. Demi Allah, teramat jarang seorang wanita yang cantik di sisi seorang suami yang begitu mencintainya, sementara dia memiliki madu, melainkan dia akan diperbincangkan.”

“Subhanallah!” sahut ‘Aisyah, “Berarti benar orang-orang membicarakan hal itu?” Pecahlah tangis ‘Aisyah malam itu tanpa henti hingga pagi menjelang. Air matanya tak berhenti mengalir. ‘Aisyah masih terus menangis.

Sampai pada akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan dari atas langit pernyataan tentang kesucian dirinya dari tuduhan dusta yang dihembuskan oleh kaum munafikin dalam ayat 11 sampai 19 Surah An-Nuur. Ummu Ruman, istri Ash-Shiddiq, ibunda Ash-Shiddiqah ini kembali ke hadapan Rabbnya pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan meninggalkan banyak kebaikan. Ketika jasadnya telah diturunkan ke dalam kubur, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin melihat seorang bidadari surga, maka lihatlah Ummu Ruman.” Ummu Ruman bintu ‘Amir, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhainya….

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.


Sumber Bacaan:

 Al-Ishabah, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (8/206-209)
 Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (hal.1935-1937)
 Kitab Azwajin Nabi, karya Al-Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Ad-Dimasyqi (hal. 83-84, 111-117)
 Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/276)
 Tahdzibul Kamal, karya Al-Imam Al-Mizzi (35/358-361)
Cerminan sholihah, karya Al-Ustadzah Ummu 'Abdirrahman Bintu 'Imran (2007)

* Nasab Ummu Ruman dari ayahnya hingga Kinanah banyak diperselisihkan oleh para ahli 
tarikh, namun mereka bersepakat bahwa dia dari Bani Ghanm bin Malik bin Kinanah.

Khadijah bintu Khuwailid : Penopang Duka Khairul Anam

Ditulis oleh : Ayu Indah Lestari


Ilustrasi gambar

Siapakah yang menyangka saat itu, keharuman pribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di setiap dada kaum muslimin? Siapakah yang menyangka, bahwa wanita yang mulia ini akan mendapatkan sebuah keutamaan yang besar yang telah ditetapkan Allah baginya? Siapakah yang menyangka, wanita cantik jelita ini akan mendampingi manusia yang paling mulia dalam rentang awal perjalanan dakwahnya? Siapakah yang menyangka saat itu…?

Muslimin manakah yang tak pernah mendengar sebutan namanya? Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah radhiyallahu‘anha yang tercatat sebagai istri Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam sekaligus wanita pertama yang membenarkan pengangkatan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam sebagai nabi dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi Wasalam 

Sebelumnya dia dikenal sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan dirinya sehingga melekatlah sebutan ath-thaahirah pada dirinya. Dia seorang janda dari suaminya yang terdahulu, Abu Halah bin Zararah bin an-Nabbasy bin ‘Ady at-Tamimi, kemudian menikah dengan ‘Atiq bin ‘A`idz bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Saat dia kembali menjanda, seluruh pemuka Quraisy mengangankan agar dapat menyuntingnya. Sebagaimana umumnya Quraisy yang hidup sebagai pedagang, Khadijah radhiyallahu‘anha adalah wanita pedagang yang mulia dan banyak harta. Tiada yang mengira, ternyata pekerjaannya itu akan mengantarkan pertemuannya dengan manusia yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. 

Ia memberikan tawaran kepada seorang pemuda bernama Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam untuk membawa hartanya ke Syam, disertai budaknya yang bernama Maisarah. Perdagangan yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam itu memberikan keuntungan yang berlipat. Tak hanya itu, Maisarah pun membawa buah tutur yang mengesankan tentang diri Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam. Penuturan Maisarah membekas dalam hati Khadijah radhiyallahu`anha. Dia pun terkesan pada kejujuran, amanah, dan kebaikan akhlak Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tersimpan keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memperoleh kebaikan itu, hingga diutuslah seseorang untuk menjumpai beliau dan menyampaikan hasratnya. Dia tawarkan dirinya untuk dipersunting Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, seorang pemuda yang saat itu berusia dua puluh lima tahun. Gayung pun bersambut. 

Namun, ayah Khadijah enggan untuk menikahkannya. Khadijah, wanita yang cerdas itu tak tinggal diam. Ia tak ingin terluput dari kebaikan yang telah bergayut dalam angannya. Dibuatnya makanan dan minuman, diundangnya ayah beserta teman-temannya dari kalangan Quraisy. Mereka pun makan dan minum hingga mabuk. Saat itulah Khadijah mengemukakan kepada ayahnya, “Sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdillah telah mengkhitbahku, maka nikahkanlah aku dengannya.” Dinikahkanlah Khadijah dengan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, dan segera Khadijah memakaikan wewangian dan perhiasan pada diri ayahnya, sebagaimana kebiasaan mereka pada saat itu. 

Tatkala sadar dari mabuknya, ayah Khadijah mendapati dirinya mengenakan wewangian dan perhiasan. Ia bertanya keheranan, “Mengapa aku? Apa ini?” Khadijah berkata kepada ayahnya, “Engkau telah menikahkanku dengan Muhammad bin ‘Abdillah.” Ayahnya pun berang, “Apakah aku akan menikahkanmu dengan anak yatim Abu Thalib? Tidak, demi umurku!” Khadijah menjawab, “Apakah engkau tidak malu, engkau ingin menampakkan kebodohanmu di hadapan orang-orang Quraisy dengan menyatakan kepada mereka bahwa engkau saat itu menikahkanku dalam keadaan mabuk?” Tak henti-henti Khadijah berucap 
demikian hingga ayahnya ridha. Wanita jelita itu, Khadijah radhiyallahu‘anha, mendapati kembali belahan hatinya dalam usia empat puluh tahun. Tergurat peristiwa ini dalam sejarah lima belas tahun sebelum 
Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam diangkat sebagai nabi. 

Allah Subhanahu wa Ta`ala telah menentukan Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi seorang nabi. Awal mula wahyu turun kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam berupa mimpi yang baik yang datang dengan jelas seperti munculnya cahaya subuh. Kemudian Allah jadikan beliau Shallallahu `alaihi Wasalam gemar menyendiri di gua Hira’, ber-tahannuts beberapa malam di sana. Lalu biasanya beliau kembali sejenak kepada keluarganya untuk menyiapkan bekal. Demikian yang terus berlangsung, hingga datanglah al-haq, dibawa oleh seorang malaikat. 

Peristiwa ini sangat mengguncang hati Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Bergegas-gegas beliau kembali menemui Khadijah radhiyallahu`anha dalam keadaan takut dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Diselimutilah Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga beliau merasa tenang dan hilang rasa takutnya. Kemudian mulailah beliau mengisahkan apa yang terjadi pada dirinya. Beliau mengatakan kepada Khadijah, “Aku khawatir terjadi sesuatu pada diriku.” 

Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah radhiyallahu`anha, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah. Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta pada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu dan membantu orang yang membela kebenaran.” 

Lalu Khadijah radhiyallahu`anha membawa suaminya menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, anak paman Khadijah radhiyallahu`anha, seorang yang beragama Nashrani pada masa itu dan telah menulis al-Kitab dalam bahasa Ibrani. Dia adalah seorang laki-laki yang lanjut usia dan telah buta. Khadijah radhiyallahu`anha berkata padanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah penuturan anak saudaramu ini.” Waraqah pun bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?” Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menuturkan pada Waraqah apa yang beliau lihat. Setelah itu, Waraqah mengatakan, “Itu adalah Namus yang Allah turunkan kepada Musa. Aduhai kiranya aku masih muda pada saat itu! Aduhai kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!” Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali pasti dimusuhi. Kalau aku menemui masa itu, sungguh-sungguh aku akan menolongmu.” Namun tak lama kemudian, Waraqah meninggal. Inilah kiprah pertama Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha semenjak masa nubuwah. Dia pulalah orang pertama yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu`anha. Terus mengalir dukungan dan pertolongan Khadijah radhiyallahu`anha kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dalam menghadapi kaumnya. Setiap kali beliau mendengar sesuatu yang tidak beliau sukai dari kaumnya, beliau menjumpai Khadijah radhiyallahu`anha. Lalu Khadijah pun menguatkan hati beliau, meringankan beban yang beliau rasakan dari manusia. 

Tak hanya itu kebaikan Khadijah radhiyallahu`anha. Dia berikan apa yang dimiliki kepada suami yang dicintainya. Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menampakkan rasa senangnya pada Zaid bin Haritsah, budak yang berada di bawah kepemilikannya, Khadijah pun menghibahkan budak itu kepada suaminya. Inilah yang mengantarkan Zaid memperoleh kemuliaan menjadi salah satu orang yang terdahulu beriman. 

Dialah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah diraihnya semenjak ia masih ada di muka dunia. Tatkala Jibril `Alaihis Salam datang kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Dia akan datang membawa bejana berisi makanan atau minuman. Bila ia datang padamu, sampaikanlah salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikan pula kabar gembira tentang rumah di dalam surga dari mutiara yang berlubang, yang tak ada keributan di dalamnya, dan tidak pula keletihan.” 

Tiba pungkasnya masa Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi suaminya yang mulia. Khadijah radhiyallahu`anha kembali kepada Rabbnya `Azza wa Jalla, tak lama berselang setelah meninggalnya Abu Thalib, paman Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tahun itu menjadi tahun berduka bagi Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Kaum musyrikin pun semakin berani mengganggu beliau sampai akhirnya Allah perintahkan beliau untuk meninggalkan Makkah menuju negeri hijrah, Madinah, tiga tahun setelah itu. 

Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaannya, kebaikannya dan kesetiaannya senantiasa dikenang oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga merebaklah kecemburuan ‘Aisyah radhiyallahu`anha, “Bukankah dia itu hanya seorang wanita tua yang Allah telah mengganti bagimu dengan yang lebih baik darinya?” Perkataan itu membuat Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam marah, “Tidak, demi Allah. Tidaklah Allah mengganti dengan seseorang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika manusia mendustakanku, dia memberikan hartanya padaku saat manusia menahan hartanya dariku, dan Allah memberikan aku anak darinya yang tidak diberikan dari selainnya.” 

Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah dijanjikan melalui lisan mulia Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam, “Wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, Maryam bintu ‘Imran, dan Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun.” Semoga Allah meridhainya. Wallahu ta`ala a’lamu bish-shawab. 



DAFTAR PUSTAKA: 

Al-Ishabah, Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani 
Mukhtashar Sirah ar-Rasul, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab 
Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Al-Bukhari 
Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Ibrahim Al-‘Aly 
Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi 
Cerminan Shalihah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran (2003)

Pendamping Rasulullah di Negeri Yang Kekal Abadi

Oleh : Ayu Indah Lestari


Ilustrasi gambar

Wanita mulia, putri seorang yang mulia. Kemuliaan yang dicurahkan oleh Rabbnya dengan puasa dan shalat malamnya. Kemuliaan yang membuat dirinya tetap berdampingan dengan orang yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Putri seorang yang paling mulia setelah Abu Bakr Ash Shiddiq, Hafshah binti ‘Umar bin Al Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qarth bin Razzah bin ‘Ady bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib Al Qurasyiyyah Al ‘Adawiyyah radliallahu anhu. Ibunya bernama Zainab bintu Madh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah Al Jumahiyah. Dia dilahirkan lima tahun sebelum masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diangkat sebagai nabi.

Hafshah merangkai kisah hidupnya dalam ikatan pernikahannya dengan Khumais bin Hudzafah As Sahmi, seorang sahabat mulia yang turut terjun dalam pertempuran Badr. Namun ikatan itu harus terurai. Khumais terluka dalam peperangan Uhud hingga akhirnya meninggal dunia di Madinah.

Dilaluinya kesunyian hari tanpa seseorang di sisinya. Kesedihan tak tersembunyi dari wajahnya. Betapa pilu hati ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu anhu melihat semua itu.Betapa ingin dia mengusir kesedihan hati putrinya. Terlintas di benaknya sosok seorang yang mulia, Abu Bakr Ash Shiddiq z. Usai masa ‘iddah Hafshah, bergegas ‘Umar berangkat menemui Abu Bakr. Dikisahkannya peristiwa yang menimpa putrinya, kemudian ditawarkannya Abu Bakr untuk menikah dengan putri tercintanya. Akan tetapi, ‘Umar tidak mendapati jawaban sepatah kata pun dari Abu Bakr.

Remuk redamlah hati ‘Umar. Dia bangkit meninggalkan Abu Bakr dengan menyisakan kemarahan. Kemudian ‘Umar menemui ‘Utsman bin ‘Affan yang baru saja kehilangan kekasihnya, Ummu Kultsum, putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diceritakannya pula tentang putrinya dan ditawarkannya ‘Utsman untuk menikahi putrinya. ‘Utsman pun terdiam, kemudian memberikan jawaban yang membuat hati ‘Umar semakin hancur, “Kurasa, aku tidak ingin menikah dulu hari-hari ini.” ‘Umar kembali dengan membawa bertumpuk kekecewaan.

Dengan penuh gundah, ‘Umar menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diungkapkannya segala yang dialaminya. Merekahlah senyuman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu beliau berkata, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada ‘Utsman, dan ‘Utsman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”

Siapa yang menyangka, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminang Hafshah, putri sahabatnya, ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu anhu. Tak terkira kegembiraan yang memenuhi hati ‘Umar. Seusai menikahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan putrinya, ‘Umar segera mendatangi Abu Bakr untuk mengabarkan peristiwa besar yang dia alami sebagai  diiringi dengan permintaaan maaf. Abu Bakr suatu kemuliaan dari Allah  tersenyum mendengar penuturan ‘Umar, “Barangkali waktu itu engkau sangat marah padaku. Sesungguhnya aku tidak memberikan jawaban karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut-nyebut Hafshah. Akan tetapi, aku tidak ingin menyebarkan rahasia beliau. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menikahinya, pasti aku akan menikah dengannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Hafshah pada tahun ketiga hijriyah, dalam usia Hafshah yang kedua puluh tahun. Semenjak saat itu, Hafshah hadir dalam rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, setelah ‘Aisyah radliallahu anha Pada tahun itu pula beliau menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan radliallahu anhu dengan putri beliau, Ruqayyah radliallahu anha.

Dalam rentang perjalanannya menapaki rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tercatat kisah yang mengguratkan sejarah besar. Dari peristiwa itulah turun ayat-ayat dalam Surat At Tahrim sebagai teguran Allah Subhanahuwata 'ala erawal kisah ini dari singgahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumah Zainab bintu Jahsy radliallahu anhuma. Beliau tertahan beberapa lama karena menikmati madu yang dihidangkan Zainab. Tatkala mendengar hal itu, meluaplah riak-riak kecemburuan ‘Aisyah. Dia kabarkan hal ini kepada Hafshah. Kemudian ‘Aisyah dan Hafshah pun bersepakat, apabila beliau menemui salah seorang dari mereka berdua, hendaknya dikatakan bahwa beliau telah makan buah Maghafir.

Inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah dan Hafshah, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan, “Aku tidak makan buah maghafir. Aku hanya minum madu di tempat Zainab, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Pun tak hanya itu yang terjadi. Peristiwa lain turut mengiringi, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendatangi budak beliau, Mariyah Al Qibthiyyah, di rumah Hafshah. Kecemburuan Hafshah pun membuncah, “Ya Rasulullah, engkau lakukan hal itu di rumahku, di atas tempat tidurku dan pada hari giliranku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun segera meredakan kemarahan Hafshah. Beliau menyatakan bahwa sejak saat itu Mariyah haram bagi beliau. Tak lupa beliau berpesan agar Hafshah tidak menceritakan apa yang terjadi pada siapa pun. Namun, Hafshah tidak memegangi pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dia mengungkap peristiwa itu di hadapan ‘Aisyah.

Siapakah yang dapat bersembunyi dari Allah? Tentang dua peristiwa ini, Allah turunkan wahyu kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar tidak mengharamkan segala yang Allah halalkan, semata-mata untuk mencari keridhaan istri-istri beliau. Allah kabarkan kepada beliau tentang apa yang diperbuat ‘Aisyah dan Hafshah, disertai pula teguran kepada mereka berdua untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Perjalanan rumah tangga dengan segenap pasang surutnya. Suatu ketika, pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak  menahan beliau, “Kembalilah kepada Hafshah! menceraikannya. Namun Jibril  Sesungguhnya dia wanita yang banyak puasa dan shalat malam, dan dia adalah istrimu kelak di dalam surga.” Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu, wanita mulia yang meraih kemuliaan dengan puasa dan shalat malamnya. Hafshah menikmati bimbingan dalam liputan cahaya kenabian. Dia meriwayatkan banyak ilmu dari sisi suaminya yang tercinta, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dari ayahnya, ‘Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia sebarkan ilmu, hingga tercatatlah deretan nama para sahabat yang meriwayatkan dari Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu, di antaranya ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu anhu, saudara laki-lakinya.

Masa terus berjalan, khilafah berganti. Pada tahun keempat puluh lima setelah hijrah, pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliallahu anhu, Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu kembali kepada Rabb-nya. Kala itu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Hurairah radliallahu anhuma terlihat turut mengusung jenazah Hafshah radliallahu anhu dari kediamannya hingga ke kuburnya. Wanita mulia itu telah tiada, kehidupannya meninggalkan keharuman ilmu dan guratan berharga bagi umat ini. Hafshah bintu ‘Umar, semoga Allah meridhainya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.


Sumber bacaan :

1. Al-Ishabah karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, 7/581-582
2. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, 8/807-808
3. Nashihati lin Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah, hal. 130
4. Siyar A’lamin Nubalaa’ karya Al Imam Adz Dzahabi, 2/227-231
5. Tahdzibul Kamal karya Al Imam Al Mizzi, 35/153-154
6. Cerminan Shalihah karya Ummu 'Abdirrahman Anisah bintu 'Imran (2007)

Pelantikan Pengurus Komunitas Sahabat Qur’an


Suasana pembacaan ikrar pengurus KSQ


Gardamedia.org -  Jum’at (24/04) pukul 14.50 WIB seluruh pengurus Komunitas Sahabat Qur’an (KMQ) periode 2014-2016 dilantik di LPPM USU . Selaku Pembina KMC, Ustadz Anshori mengungkapkan 
harapannya untuk komunitas Sahabat Qur’an  yang telah berdiri sejak tahun 2010 ini. 

"Harapan saya dengan adanya KSQ, bisa mengembangkan Al-Qur’an di USU , karena sebaik-
baiknya kamu adalah orang yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain”

Ketua umum KSQ  M. Akbar usai dilantik, mengajak semua yang hadir untuk dapat 
berpartisipasi dalam Program Tahfiz yang akan dilaksanakan dan mulai menjadikan Al-Qur’an 
sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

“Komunitas Sahabat Qur’an ini juga sudah memberi beasiswa kepada dua orang mahasiswa 
Penghafal Al-qur’an dan semoga akan terus bertambah”

Dalam acara ini juga menghadirkan Ustadz Yusuf Fahmi yang membawakan taujih tentang hidup ini kan 
berarti jika Al-Qur’an menaungi. Saran dari ustad untuk penghafal alqur’an agar tidak mengganti-ganti 
alqur’an saat menghafal alqur’an.


Penulis : Ratna Sari

Selasa, 28 April 2015

Unjuk Rasa PEMA USU Tuntut Kejelasan Statuta USU


Pembantu Rektor III Drs. Raja Bongsu Hutagalung, M. Si (kiri) disaksikan Pimpinan Aksi Bendri Sitorus (tengah) beserta puluhan mahasiswa memberi pengarahan kepada mahasiswa yang berunjuk rasa di depan Gedung Biro Rektor USU, Selasa (28/4).

Gardamedia.org –  Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) USU menggelar unjuk rasa di depan Gedung Biro Rektor USU, Selasa (28/4). Unjuk rasa dilakukan dengan aksi pembakaran ban disertai orasi beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas. Aksi dipimpin langsung oleh Seketaris Jenderal PEMA USU, Bendri Sitorus. Dalam orasinya, Bendri menuntut kejelasan statuta USU kepada Majelis Wali Amanat (MWA). Bendri sangat menyayangkan sikap MWA yang melantik Prof. Subhilar sebagai sebagai Pelaksana Jabatan (PJ) Rektor dikarenakan statusnya sebagai anggota MWA.

 “Kenapa saat ini yang menjadi PJ Rektor itu dari MWA, yang kami ketahui menurut statuta, MWA itu adalah tugasnya untuk mengawasi kinerja Rektor. Yang mengawasi kok jadi diawasi. Kan aneh seperti itu," ungkapnya.


Bendri juga meminta agar mahasiswa dilibatkan untuk menjadi anggota MWA. 
“Seperti di Universitas-universitas lain, dari mahasiswa itu ada dia jadi anggota MWA," tambahnya.

Puluhan personil satuan pengamanan (satpam) USU dikerahkan untuk menjaga gerbang Biro Rektor dari amukan mahasiswa. Walaupun tidak terlihat adanya bentrokan antara satpam dan mahasiswa, tapi suasana kian ricuh karena asap bakaran ban yang mengepul dan riak-riakan massa. 


Setelah hampir setengah jam berorasi, akhirnya Pembantu Rektor (PR) III Drs. Raja Bongsu Hutagalung keluar menemui kerumunan mahasiswa untuk memberikan pengarahan. Beliau menyarankan agar mahasiswa memberikan tuntutan dengan cara-cara yang terhormat. Bukan dengan jalan seperti ini. 



“Persoalan ini tidak akan mungkin bisa diselesaikan di sini, jadi kepada mahasiswa buat surat kepada MWA, agar MWA dapat menemui kalian," tuturnya.


Para mahasiswa menolak saran dari PR III, mereka tetap bersihkukuh menuntut pihak MWA agar menemui mereka dan memberikan keterangan terkait permasalahan ini. 


“Kenapa pihak MWA gak keluar saja dan memberi penjelasan kepada kami disini," tukasnya.


PR III kemudian kembali masuk kedalam gedung untuk menemui MWA. Kemudian tak berapa lama beliau keluar dan menjanjikan kepada mahasiswa bahwa MWA akan menemui mereka beberapa saat lagi. 


“Saya sudah bicara pada pihak MWA, mereka akan menemui kalian beberapa saat lagi," ungkapnya.

Lama menunggu, MWA pun tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Akhirnya, para mahasiswa memutuskan untuk membubarkan diri. Mereka pun harus menelan kekecewaan karena merasa dipermainkan. Menanggapi hal tersebut, Bendri selaku Pimpinan Aksi (PIAS) kembali menegaskan akan memobilisasi massa lebih besar lagi, bahkan sampai nasional karena aksi mereka tidak diindahkan pada hari ini. 


“Ini sampai betul-betul kami, istilahnya sampai nasional lah, karena ini bukan merupakan  aksi kami yang pertama kali terkait permasalahan pejabat-pejabat USU ini," jelasnya.



Penulis : Muhammad Aji Nasution

Rabu, 22 April 2015

#KAA4Palestine


Orasi berlangsung di depan Pintu 1 USU, Jalan Dr. Mansyur, Rabu (22/4)

Gardamedia.org - Bermula dari negara-negara yang baru memperoleh kemerdekaan pasca berakhirnya perang dunia ke II, Konferensi Asia-Afrika (KAA) terbentuk. Kekhawatiran terhadap keamanan dunia yang belum stabil dan masih terjadinya perang dingin antara pemimpin Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Rusia) menjadi alasannya.

Kini KAA telah mencapai usia ke 60 tahun. Indonesia menjadi tuan rumah dalam peringatan KAA-60 yang berlangsung di Bandung dan Jakarta, Minggu-Jum’at (19-24/4). Bersamaan dengan peringatan tersebut, para aktivis dakwah Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar aksi.

Saat aksi, para aktivis dakwah kampus membawa beberapa bendera
Palestina sebagai bentuk dukungan atas kemerdekaan mereka.
Digerakkan oleh Lembaga Dakwah Kampus Unit Kegiatan Mahasiswa Islam  Ad-Dakwah (LDK UKMI Ad- Dakwah) USU, aksi berjalan dengan tertib. Mengusung tema “KAA4Palestine”, Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) dari seluruh 15 fakultas USU ikut meramaikan. Tujuan aksi ini ialah menyuarakan tuntutan komitmen  kepada 106 wakil negara dan 19 organisasi internasional yang hadir berpartisipasi dalam forum KAA untuk memperjuangkan Palestina dan penyelesaian konflik di berbagai negara.

Aksi kali ini terdiri dari serangkaian kegiatan. Dimulai dengan longmarch dari Pendopo USU hingga berhenti  di depan Pintu Satu USU, Jalan Dr. Mansyur, Rabu (22/4).  Dilanjutkan orasi dari berbagai perwakilan LDF USU. Aksi semakin dramatis dengan dibacakannya puisi di sela-sela aksi berlangsung. Para aktivis dakwah kampus juga membagikan flyer yang berisi dukungan kemerdekaan Palestina kepada para pengguna jalan yang berlalu-lalang. 

“Aksi yang kita lakukan merupakan cara yang efektif, agar pemerintah-pemerintah tau dan ini juga salah satu wujud nyatanya kita memberikan kasih sayang kepada mereka” kata Yani, mahasiswi Psikologi USU.

“Semoga aksi ini membuat masyarakat dan mahasiswa tau kondisi Negara di Timur Tengah khususnya Palestina, walaupun kita tidak dapat berbuat banyak namun kita peduli dan berikutnya dapat memberikan bantuan-bantuan. Kepada pemerintah, agar menjalankan komitmen yang pernah disepakati dalam KAA dalam memerdekakan negara adidaya di Asia-Afrika khususnya Palestina “ ujar Nanda Tryhadi selaku Ketua Umum LDK UKMI Ad-Dakwah USU.



Penulis : Hanifah Siti Aisyah
Editor : Inggit Suri Chairani
Foto : Miya Andina 

Senin, 20 April 2015

USU Menjadi Tuan Rumah Rapat Kerja Nasional

Gardamedia.org- Unit Kegiatan Mahasiswa Islam As-Siyasah, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara (UKMI As-Siyasah FISIP USU) kali ini menjadi tuan rumah dalam acara Rapat Kerja Nasional Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus ISIP (Rakernas FSLDK ISIP) Se-Indonesia. Kegiatan akan berlangsung selama enam hari (28/4 - 2/5) di Medan, Sumatera Utara.

Berdasarkan hasil kesepakatan FSLDK ISIP se- Indonesia, UKMI As-Siyasah diberi amanah sebagai koordinator nasional rakernas. Oleh karena itu, USU terpilih menjadi tuan rumah kegiatan akbar ini. 

"Tujuan diadakannya rakernas itu untuk menyusun program kerja selama dua tahun dan mengeratkan silahturahmi sesama aktivis dakwah kampus" ucap Syahrin, ketua koordinator nasional FSLDK ISIP Indonesia. 
  
Sekalipun kegiatan bersifat internal, dalam pelaksanaannya rakernas akan melibatkan banyak partisipan. Dimulai pengisi acara hingga perwakilan dari masing-masing delegasi LDK se -Indonesia. 

Pada hari pertama masing-masing LDK akan memperkenalkan dirinya. Disusul hari kedua, akan diisi dengan Seminar Nasional "Membentuk Karakter Masyarakat Indonesia dalam Menyokong ASEAN Economic Comunity 2015" berlokasi di LPPM USU jam 09.30 - 12.15 wib. Tak hanya menghadirkan peserta FSLDK, seminar juga akan dihadiri oleh seluruh aktivis dakwah kampus USU. Dan turut hadir pula Maidany Nasyeed sebagai penghibur acara. 

Kegiatan semakin seru dengan acara Kamis Berbagi dan Studi Wisata Islam  di Istana Maimoon dan Masjid Raya Al-Mashun Medan, Kamis (30/4). Acara inti Rakernas FSLDK ISIP se-Indonesia akan dilaksanakan pada 1-2 Mei. Kegiatan selama enam hari akan ditutup dengan Safari Dakwah & Tadabbur Alam "Aksi Seribu Sampah" di Tomok, Parapat.


Tim Redaksi Garda Media

Tikar Tensi : Kesehatan Adalah Investasi Berharga

C:\Users\User\Documents\WP_20150419_07_49_32_Pro.jpg
 Spanduk Tikar tensi terpampang di halaman Biro Rektor  USU, Minggu (19/3).

Gardamedia.org Badan Kenaziran Masjid (BKM) Ar-Rahman melaksanakan programnya “Tikar Tensi” di halaman biro rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Jl. Dr. Mansyur, Minggu (19/3). Kali ini, BKM Ar-Rahman melayani para pengunjung yang datang untuk berolahraga di USU. Bentuk layanan ialah periksa kesehatan yang diberikan secara suka rela.   

Tikar tensi merupakan salah satu serangkaian program divisi Hari Besar Islam dan Pengabdian Masyarakat BKM Ar-Rahman  Fakultas Kedokteran  USU. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini rutin dijalankan setiap seminggu sekali. Tujuan dari  program tersebut yaitu mengaplikasikan tri darma perguruan tinggi, keterampilan dan pengabdian masyarakat yang harus ada di dalam jiwa diri seorang dokter.

G:\Pictures\Camera Roll\WP_20150419_07_29_06_Pro.jpg
Tampak pengunjung Tikar Tensi menunggu giliran dalam pemeriksaan 
dan konsultasi di halaman depan biro rektor USU.

“Apa yang kami pelajari di Fakultas Kedokteran, kami pengaplikasikannya dalam program tersebut. Sebagian dari mahasiswa/I, ibu dan bapak serta masyarakat USU ingin mengetahui berapa tekanan darah yang normal,kadar gula darah, asam urat dan kolesterol” tutur Sandra  (Seketaris Panitia acara Tikar Tensi).
Tak hanya Kesehata gratis,  tikar tensi juga menyediakan layanan konsultasi gratis bagi pasien yang ingin mengetahui solusi dari masalah kesehatan mereka. Adapun dalam konsultasi melibatkan bantuan dari beberapa dokter muda.

Diketuai oleh Ibnu Gilang Syawali selaku ketua panitia, acara berlangsung dari pukul 07.00 - 10.00 wib, di halaman depan biro rektor USU. Segala bentuk biaya pelaksanaan adalah hasil usaha mandiri sendiri dari panitia. Pendapatan biaya awalnya sendiri berasal dari bendahara umum BKM Ar-Rahman  Fakultas Kedokteran  USU, dan selebihnya di tanggung jawabi oleh panitia pelaksana.


C:\Users\User\Documents\WP_20150419_07_30_29_Pro.jpg
Petugas sedang memeriksa tensi mahasiswi dan memberikan keterangan kepada mereka.

“Saya mendapatkan tambahan wawasan dalam menghadapi masyarakat, dan pengetahuan dalam belajar, mengetahui keluhan yang ada di pasien tersebut “ungkap salah seorang panitia.

Pesan yang diusung Tikar tensi yaitu kesehatan merupakan hal terpenting dalam kehidupan, jadikan kesehatan  sebagai investasi  berharga, jaga kesehatan dalam segala hal, tanpa sehat kita tak mampu mengerjakan segala bentuk aktivitas apapun itu.


Penulis :  Mira Maharani
Editor  : Inggit Suri Chairani
Foto    : Mira Maharani

Minggu, 19 April 2015

UKMI Ad Dakwah Sambut Hangat Kunjungan LDK UMN Al Wasliyah

Pertukaran cendera mata antar kedua LDK, Minggu (19/4) di Mesjid FK USU

Gardamedia.org - UKMI Ad Dakwah (UAD) USU menyambut hangat kunjungan  LDK Raudhatul Jannah (RJ) UMN Al Wasliyah Medan. Acara silaturrahim antar LDK ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali rasa persaudaraan antar kedua LDK. Silaturrahim yang dilaksanakan pada hari Minggu (19/4) ini berlangsung lancar walaupun dengan suasana mendung dan jamuan yang sederhana. 

Acara ini diawali dengan kata sambutan Ketua Umum UAD Nanda Tryhadi dan Sekretaris Umum LDK Raudhatul Jannah Andri Budi Pratama yang mewakili UMN Al Wasliyah dan dilanjutkan oleh perkenalan setiap pengurus UAD maupun LDK Raudhatul Jannah serta sesi diskusi. Dalam kata sambutannya, tiap-tiap perwakilan memberikan harapannya dengan adanya silaturrahim ini. 

"Semoga dengan adanya silaturrahim ini kedua LDK (UAD & RJ) bisa saling memberi dan menginspirasi terjadinya perubahan, khususnya dalam regional dakwah kampus masing-masing LDK." kata Ketua Umum UAD Nanda Tryhadi dalam kata sambutannya di awal acara.

Selain untuk menjalin silaturrahim dengan UKMI Ad Dakwah USU, dalam kata sambutan Sekretaris Umum LDK Raudhatul Jannah juga mengharapkan agar pertemuan ini bisa menjadi wadah tukar pikiran antara kedua belah pihak tentang permasalahan dakwah di kampus masing-masing, serta mampu memberikan pelajaran yang baik.

"Saya berharap dengan silaturrahim ini persaudaraan antara UKMI Ad Dakwah USU dan LDK Raudhatul Jannah tidak hanya semakin kuat, tapi juga mampu memberikan banyak ilmu kepada kami tentang dakwah kampus, serta kita juga bisa saling tukar fikiran disini,".

Tampak suasana Silaturrahim berlangsung khidmat dan lancar

Setelah berdiskusi cukup panjang tentang kondisi kedua LDK dan apa saja agenda dakwah selama kepengurusannya, acara ini pun ditutup dengan pertukaran cendera mata antar kedua belah pihak.

Acara seperti ini diharapkan bisa sering dilaksanakan antara semua LDK khususnya yang ada di kota Medan agar terus menjalin silaturrahim untuk meningkatan rasa persaudaraan antar LDK serta harus lebih banyak lagi membuat forum diskusi untuk membahas masalah terkini dakwah kampus demi terciptanya kondisi kampus madani yang menjadi cita-cita setiap LDK.


Tim Redaksi Garda Media









Senin, 13 April 2015

Musim Baru untuk UKMI Ad-Dakwah

Suasana Pengikraran Pengurus UKMI Ad-Dakwah USU periode 2015-2016

Gardamedia.org- Setelah terlaksananya proses pelantikan pengurus baru UKMI Ad-Dakwah Universitas Sumatera Utara, Sabtu (11/04),  di Aula Nazir Alwi FKG USU, kini UKMI Ad-Dakwah akan menghadapi musim baru. Pasang surut syiar dakwah yang dilakukan periode sebelumnya, menjadi motivasi penyemangat untuk periode ini.
 
“semoga anggotanya makin solid, kerjasamanya makin tinggi.” Ujar Lia Kurniati dari BP2M FEB USU yang juga menjabat sebagai Sekretaris Danus UAD, saat ditanyai tentang harapan untuk UKMI Ad-Dakwah kedepannya. 



 

Begitu pula dengan beberapa tokoh yang sempat ditanyai tentang harapan, “harapannya sih, agar UAD bisa lebih baik dari sebelumnya dan bisa merangkul seluruh LDF untuk bekerjasama dengan UAD, sama-sama mengembangkan dakwah di USU. Saling bersinergi. Agar dapat memakai seluruh sarana yang ada, seperti dari media sosial. Gunakan seluruh media yang ada untuk mengembangkan dakwah ini. Dengan dilantiknya pengurus UKMI Ad-Dakwah yang baru ini, semoga, bisa bekerjasama, saling bersinergi, dan bisa menginspirasi setiap orang.” Ibnu Hanafi, Fasilkom TI, mengemukakan pendapatnya panjang lebar.

Tidak hanya harapan dari beberapa undangan tiap LDF, pun Dewan Penasihat UKMI Ad-Dakwah, Aby Awwabin, turut menyampaikan harapannya “UKMI Ad-Dakwah cakupan dakwahnya lebih luas, tidak hanya di Universitas Sumatera Utara, tetapi juga di seluruh Medan, bisa menjadi lembaga dakwah kampus yang menjadi pionir untuk kemudian dapat berkomunikasi dengan lembaga dakwah lain, syiar-syiarnya lebih kreatif, kadernya lebih militan, pendanaannya lebih banyak dan lebih bagus, perubahan di akhir periode LDK bisa mencapai target-target yang sebelumnya tetap dicanangkan lembaga dakwah yang ada di USU itu lebih baik. LDF, LDK, eksternal, dan semuanya nanti jadi lebih baik lagi.”


Semangat ini didukung oleh salah satu undangan dari BTM Al Iqbal FIB, Siah Aisy, yang menyampaikan harapannya dengan lugas. “hm, saya berharap agar UKMI Ad-Dakwah bisa mengayomi LDF seluruhnya, perannya diperluas lagi, kader-kadernya lebih solid, dan UKMI Ad-Dakwah semakin maju lagi.” Tutupnya.
Harapan-harapan untuk UKMI Ad-Dakwah agar tetap terjaga ukhuwahnya, meluas dakwahnya,  mendunia prestasinya. 









Penulis : Netty
Foto      : Miya Andina
 



Kisah Inspiratif Andre Doloksaribu Mendirikan Rumah Belajar Untuk Anak Pinggiran Sungai

Oleh : saturnusapublisher Gardamedia.org (24/05/2023)    - Masyarakat pinggiran sungai sering kali terlupakan keberadaannya, apalagi biasany...