Kisah Mereka Yang Menyempurnakan Kecantiknya - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Kisah Mereka Yang Menyempurnakan Kecantiknya

Share This

Gardamedia.org - Wanita mana yang tak ingin cantik? aku, kamu, mereka, dan milyaran hawa di dunia pasti memiliki jawaban yang sama "tidak ada wanita yang ingin jelek". Menjadi cantik adalah obsesi setiap wanita ditengah keramaian paras yang pesonanya tak pernah memudar. 
Pertanyaannya, akankah semua wanita menghalalkan segala cara untuk menjadi cantik? Tak bisa dipungkiri lagi, ada saja upaya wanita untuk bisa mendapatkannya. Berbeda pengalaman, Ika Puspita Yuda, Henny Indri Utami Damanik; Maya Dewi; dan Eka Khairunnisa Simajuntak tak mengira akan menjadi secantik ini sekarang, mereka punya ceritanya masing-masing.

Bertempat di Aula SMK BI Binaan Medan, melalui Talkshow "Sempurnakan Cantikmu Dengan Hijab" yang merupakan rangkaian acara GMA (Gerakan Menutup Aurat) Sumut 2015 pada hari pertama, jum'at (13/2) kemarin. Keempat wanita cantik ini menceritakan pengalamannya masing-masing kepada ratusan siswa SMA Medan tentang proses menyempurnakan kecantikan yang kini mereka miliki.

Cara yang mereka lakukan bukan rahasia lagi bagi kaum wanita muslim, telah terpapar jelas dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an surah Al-Ahzab: 59 dan An-Nur: 31. Yup, mereka cantik sempurna dengan berhijab. Dengan cara terbaik inilah mereka dan seluruh muslimah bisa tampil cantik sempurna.

Aku dan Hijabku, Mereka Sungguh Menginspirasi
Part 1,
Pada kesempatan menghadiri Talkshow "Sempurnakan Cantikmu Dengan Hijab" . Salah satu narasumber, Maya Dewi, Mom yang telah sukses menjadi pengusaha dan memiliki kesibukan sebagai ketua HmC (Hijabersmom Community) Medan membuka jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana pengalaman pertamanya berhijab “Sebelumnya berjilbab tergantung suasana, masih buka tutup-buka tutup” ujarnya.

Kemantapannya untuk mencoba berhijab dimulai empat tahun silam. Terinspirasi dari rekan kerjanya, pasangan muslim yang berasal dari Cina. Saat Mom sedang membawa pasangan ini berkeliling kota Medan, mereka menanyakan dimana Masjid di sekitar sini. Langsung saja Mom memboyong mereka ke Masjid Raya.

“Bukan sekedar menikmati keindahan Mesjid kebanggaan Medan, pasangan itu melakukan sholat yang membuat Mom menjadi merasa malu pada diri mom sendiri. Sebagai muslim, mereka adalah minoritas di Negara Tirai Bambu. Butuh Perjuangan ketika mereka ingin melaksanakan berbagai perintah Allah dan diterima di tengah kehidupan mereka di Negara asalnya. Sedangkan Mom di sini, di Indonesia, dengan leluasa seharusnya bisa melakukan itu semua karena Negara ini memperbolehkan seseorang menjalankan agamanya dengan baik” lanjutnya.
Tak hanya itu, Mom masih terpukau ketika wanita etnis Tionghoa itu melaksanakan sholat dengan pakaiannya yang telah menutup aurat (tanpa mukena). Pasalnya keengganan Mom untuk berhijab adalah takut bila merasakan ketidaknyamanan dalam bergerak ketika melakukan peninjauan proyek yang tengah dikerjakannya di lapangan. “Apa yang dilakukannya menyadarkan Mom, bahwa hijab bukanlah penghalang seharusnya..” tambah Mom.

Sejak itu, Mom belajar memakai hijab disetiap harinya. “Dari anak-anak, Mom juga belajar banyak. Pasalnya mereka bersekolah di Sekolah dengan pengetahuan Islam yang cukup. Sesekali mereka memberikan Mom pengajaran-pengajaran tanpa Mom sadari. Yaitu saat putri kecil Mom menolak mengenakan pakaian mini yang Mom berikan kepadanya dan lebih memilih pakaian tertutup” lanjut Mom dengan haru. Ditambah dengan dukungan kuat oleh suami tercinta, kini Mom berharap agar Allah terus mengistiqomahkannya dengan hijab.

Part 2,
Lain pula kisah yang datang dari Ika Puspita Yuda. Bergabung dengan Komunitas ODOJ (One Day One Juz), ternyata tak hanya menjadikannya dekat dengan Al-Qur'an, dari komunitas ini Ika mendapatkan ilmu yang lain seputar Islam termasuk bagaimana cara seorang wanita muslim seharusnya berpakaian ketika berada diluar rumah atau berjumpa dengan yang bukan mahramnya. Meski dalam waktu yang lama, akhirnya ika memutuskan untuk istiqomah berhijab setelah umrohnya yang ketiga. "Mantap berhijab saya lakukan selepas pulang Umroh" kata Ika.

Part 3,

Jika kembali ke masa lalu, saat berada di sekolah menengah atas, berhijab seperti sekarang ini bukanlah keinginannya. Bahkan berpenampilan seperti ini sangat tak ia sukai ketika gaya itu dikenakan oleh salah seorang kakak kelasnya (akhwat). Eka Khairunnisa Simajuntak yang selalu berprestasi di sekolah memiliki pengaruh yang kuat dalam kelasnya. Eka selalu mempengaruhi teman-teman perempuannya untuk tidak menghadiri ajakan pengajian (mentoring) kakak kelasnya itu.
Namun keadaan telah berubah sekarang, sejak bergabung bersama teman-teman di Mushola kampusnya, gadis asal Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara kini menjadi sering dicibir soal penampilannya. Namun, Eka dengan bangga menggunakan hijab secara sempurna dimanapun dia berada, karena ia pasti dikenali  sebagai seorang wanita muslim yang tak perlu dipertanyakan lagi identitasnya seperti saat beberapa tahun lalu ketika ia tidak konsisten berjilbab. "Saya muslim. kenapa banyak orang yang mempertanyakan saya muslim atau nasrani.." tuturnya kesal.

Part 4,
Berjilbab akan mengubahku. Karena hal itulah Henny Indri Utami Damanik tak ingin mengenakan jilbab walau dengan rayuan apapun yang ibunda Henny lakukan. Perawakannya yang tomboy dituntut untuk menjadi feminim ketika akan berhijab. "Kalau saya pakai jilbab, otomatis akan mengenakan rok. Menjadi feminim seperti itu bukan gaya saya.." tuturnya ketika mencoba menceritakan pengalaman berhijabnya.

Cerita Henny berlanjut ketika dia bergabung dengan paskibra di SMA dan diwajibkannya mereka mengikuti pesantren kilat yang diadakan sekolah. Tahun pertama Henny menjadi peserta pesantren kilat, beragam tipu muslihat pun dia lakukan karena tidak mau mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam acara. "Saya bilang lagi halangan kalau sudah tiba waktunya sholat, padahal saya lagi puasa saat itu" begitu ujarnya saat mengenang masa lalu.
Belum selesai sampai disitu, menjadi panitia pelaksana pesantren kilat di tahun kedua, Henny yang dulunya bandel ketika menjadi peserta kini dipercayakan untuk berpartisipasi membuat peraturan acara. Henny menetapkan peraturan-peraturan yang membuat adik-adik kelasnya akan merasa tertekan. "Saya tulis dalam peraturan, wajib memakai jilbab, rok, dan kaus kaki. tidak boleh berdekatan dengan laki-laki.." ucapnya.
Setelah disetujui guru pembina acara pesantren kilat. Kekesalan akhirnya menyapa Henny, karena ternyata Henny juga harus mematuhi peraturan yang dibuatnya sendiri. Karena gurunya mewajibkan si pembuat peraturan menjalankan peraturan yang telah dibuatnya. Dari sinilah Henny berjilbab dan tidak bisa dekat-dekat dengan teman-teman prianya selama acara pesantren kilat.

Memiliki hobi membaca membuat Henny selalu mengikuti pengajian (mentoring) kakak kelasnya (akhwat) yang memiliki puluhan koleksi buku incarannya. "saya mau ikut ngaji karena bisa pinjem buku, terus kalau mau beli buku bisa ngutang dulu.. " kata Henny saat hampir menyudahi pengalaman berhijabnya.
Namun seiring berjalannya waktu, Henny tak hanya hadir karena buku, tapi sudah merasa nyaman dengan materi Islam yang disampaikan kakak kelasnya itu.

Dari sini Henny kemudian terus memperbaiki diri hingga dia tergabung dalam SPJ (Solidaritas Peduli Jilbab) Medan dan memiliki teman-teman yang selalu mendukungnya untuk berhijab.
-end-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages