Suasana Religius di daerah minoritas Muslim - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Suasana Religius di daerah minoritas Muslim

Share This

Desa Penampen kecamatan Payung adalah daerah tertinggi di kabupaten Karo dan juga merupakan tempat tertinggi kedua di Sumatera Utara setelah Gundaling, Berastagi.

Terletak 9 km dari puncak Sinabung. neWarga tidak mengungsi, walaupun begitu mereka juga terkena dampak dari letusan Sinabung beberapa waktu lalu. Tanaman mereka seperti sawi, langsung mati ketika terkena kipasan debu yang terbawa angin ke ladang mereka. Melihat atap rumah mereka yang terkena sifat korosi dari debu vulkanik, mengikis kekokohan atap rumah dari seng tersebut. Oleh sebab itu, Sahabat Pendidikan Ulil Albab (SP-UA) bersama adik asuh penerima beasiswa dan para relawan bergotong royong memperbaiki atap masjid. Dengan mencat atap masjid, akan melindungi kulit atap sehingga dapat lebih awet dan menguatkan atap.

Sahabat Pendidikan adalah salah satu jaringan layanan dari Lembaga Amil Zakat Ulil Albab (LAZ Ulil Albab) berupa segala aktivitas yang mendidik para generasi muda islam. Lembaga ini telah berdiri sejak 15 tahun yang lalu dan sekarang kantornya berada di jalan Brigjen Katamso no.11, Medan.

Student Work Camp (SWC) adalah program bulanan SP-UA yang dilaksanakan di pelosok Sumatera Utara khususnya di desa-desa kabupaten Karo. Kegiatannya yaitu meramaikan dan memperbaiki fasilitas masjid, dan mengajarkan keislaman kepada warga disana.

Pada kesempatan kali ini SWC dilaksanakan di Desa Penampen, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo dari 20-22 Juni 2014. Selain SWC, SP UA melaksanakan kegiatan Tahfidz Camp for akhwat secara bersamaan di desa ini. Target dari kegiatan ini yaitu bagi peserta SWC khusus akhwat dikenai target untuk bisa mengahapal surah al-quran As-Sajdah selama berada di desa ini. Sedangkan para ikhwan bertugas untuk membantu memperbaiki masjid.

Bus mini (sutra) dari terminal sutra simpang kwala, jamin ginting hanyalah satu-satunya transportasi umum yang akan mengantarkan kita ke sana. Transportasi ini pun hanya ada pada waktu tertentu saja. Bus tiba ke terminal dan langsung menuju Penampen hanya pada sekitar pukul 12.30 saja. Perjalanan menuju desa memakan waktu 6 jam, cukup lama karena bus sering berhenti di terminal yang lainnya seperti di Kota Kabanjahe untuk menunggu/mengangkut penumpang lainnya. Sedangkan apabila dari desa Penampen bus akan menjemput penumpangnya dari desa sekitar pukul 07.30 pagi menuju kota Medan. Penumpang yang tak hadir pada waktu-waktu tersebut hanya akan tertinggal dan harus menunggu bus itu kembali di keesokkan harinya.

Menurut penuturan para warga, menjelang dan saat Ramadhan banyak mahasiswa dan pelajar dari Medan yang sering berkunjung ke desa mereka untuk melakukan bakti sosial dan kegiatan keagamaan lainnya. Warga muslim desa Penampen selalu gembira dengan kedatangan-kedatangan orang-orang yang seperti itu.

Dari jumlah keseluruhan ± 220 KK warga, 77 KK adalah warga muslim. Walaupun terbilang minoritas, keadaan desa ini cukup terlihat religius. Imam Thabrani Faruq (27-an) adalah ustad muda berasal dari pemalang yang rela mengabdikan dirinya untuk berdakwah di desa penampen. Usahanya membina warga muslim di sana cukup membuat kita bangga dengan hasilnya yang terlihat sekarang. Keberadaan Masjid Penampen yang hanya ada satu-satunya di desa tersebut, juga sangat berperan dalam membangun dan menjaga keislaman warga minoritas muslim di sana. Pemandangan yang sangat jarang terlihat bila kita bandingkan dengan desa-desa lain di daerah kabupaten Karo. Ketika waktu magrib, anak-anak dan para remaja hingga orang tua rutin mendatangi masjid saat adzan tiba. Anak-anak diajarkan membaca al-qur’an dengan hukum-hukum tadjwidnya.

Penulis: Inggit Suri Chairani
Editor: Tim Garda Media USU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages