Kebangkitan Nasional Kini - LPM Garda Media USU | Portal Berita Kampus

Kebangkitan Nasional Kini

Share This

Medan-addakwahusu.org- 20 Mei merupakan salah satu tanggal yang sudah sangat akrab ditelinga masyarakat, tapi untuk tau ada apa dibalik 20 Mei mungkin hanya segelintir orang yang tau. Terkhusus pada ranah pendidikan yang kemarin sempat disambangi. Kampus menjadi salah satu tempat pencetak lahirnya orang-orang yang intelek, peka terhadap masalah, lingkungan and whatever. Lalu pantaskah yang katanya ‘Aktivis Mahasiswa’, Melek Politik, Melek ini dan itu tak tau bahkan lupa tanggal 20 Mei adalah Hari Besar Nasional. Wah..wah..wah. Salah satu mahasiswa Sosial Politik yang saya temui tak banyak cerita tentang makna peringatan HARKITNAS. Lantas apa sebenarnya Hari Kebangkitan Nasional? Sejak kapan hari itu diperingtai dan mulai dijadikan Hari Besar Nasional?

Asal usul Kebangkitan Nasional

Pada tahun 1912 berdirilah Partai Politik pertama di Indonesia (Hindia Belanda), Indische Partij. Pada tahun itu juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (di Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (di Yogyakarta), Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Kebangkitan pergerakan nasional Indonesia bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, tapi sebenarnya diawali dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.

Suwardi Suryaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya aku seorang Belanda"), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda. Karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tetapi karena "boleh memilih", keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Suwardi justru belajar ilmu pendidikan dan dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.
Saat ini, tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

TIDAK ADA HARI KEBANGKITAN NASIONAL??

Secara historis, sangat sulit diterima bahwa tanggal berdirinya Budi Utomo dijadikan Hari Kebangkitan Nasional. Karena Budi Utomo adalah organisasi Priyayi Jawa yang berorientasi Kedaerahan, yakni Jawa, bukan kemerdekaan Indonesia. Budi Utomo juga adalah organisasi Kacung Belanda. Sejatinya, hari didirikannya Budi Utomo bukan Hari Kebangkitan Nasional. Dan Hari Kebangkitan Nasional sebenarnya tidak ada. Tetapi kebangkitan nasional itu ada.

Sarikat Dagang Islam, dirintis oleh Haji Samanhudi sejak 1905. Sarikat Dagang Islam bertujuan untuk memajukan perdagangan kaum Muslim Bumiputera yang saat itu dikuasai oleh pedagang Tionghoa. Sarikat Dagang Islam menjadi organisasi perlawanan pertama di Hindia-Belanda. Meskipun tujuannya juga bukan dalam skala nasional, tetapi Sarikat Dagang Islam yang pertama ingin mensejahterakan kaum Bumiputera. Sehingga banyak yang menganggap, hari kelahiran Sarikat Dagang Islam yang seharusnya dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Seperti yang dikatakan oleh KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Sarikat Islam “Tidak pernah sekalipun BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda”.

Pada periode 1905-1915 berdiri banyak organisasi di Hindia-Belanda diantaranya Sarikat Dagang Islam, Budi Utomo, Indische Partij, Muhammadiyah, dan lain-lain. Organisasi-organisasi tersebut berbeda latar belakang dan tujuannya. Yang manakah yang tepat untuk dijadikan Hari Kebangkitan Nasional? Sangat sulit karena kebangkitan nasional tidak bisa ditetapkan dalam satu hari. Orang-orang pada masa itu juga tidak pernah menyebutkan tentang kebangkitan nasional. Toh, kebangkitan nasional itu terjadi dengan sendirinya.

Bahkan jika kita ingin menetapkan Hari Kebangkitan Nasional, yang sah adalah 28 Oktober 1928. Selain Hari Sumpah Pemuda, hari itu juga paling tepat dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Bahkan kata Indonesia pun diresmikan pada tanggal tersebut. Semangat Nasionalisme untuk merdeka dengan persatuan yang terjalin antara orang-orang di seluruh wilayah di Hindia-Belanda berpuncak pada 28 Oktober 1928.

Sejatinya Hari Kebangkitan Nasional itu tidak ada. Karena tidak ada definsi yang jelas mengenai apa itu kebangkitan nasional. Juga karena tanggal 20 Mei tersebut adalah hari didirikannya Budi Utomo. Dan Budi Utomo bukan merupakan organisasi yang bergerak pada kebangkitan nasional.

Kebangkitan nasional tidak bisa ditetapkan dalam satu hari menjadi Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi jika hari lahirnya Budi Utomo yang dijadikan hari tersebut. Sangat tidak tepat. Kebangkitan nasional berlangsung sekitar 10 tahun antara 1905-1915. Karena pada masa itu berdiri organisasi-organisasi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejatinya tidak ada Hari Kebangkitan Nasional. Dan bukan kapan tanggal yang tepat untuk dijadikan Hari Kebangkitan Nasional, tetapi bagaimana kita memaknai kebangkitan nasional itu. Tidak ada Hari Kebangkitan Nasional, tapi kebangkitan nasional itu ada. Tidak perlu terlalu jauh memperdebatkan mengenai tanggalnya, tapi mari kita maknai semangat kebangkitan nasional dalam jiwa kita! Merdeka!

http://sejarah.kompasiana.com/2014/05/21/tidak-ada-hari-kebangkitan-nasional-658194.html

Penulis : Adhe Nowanda
Editor : Lembaga Jurnalistik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages